LEBAK, BANTENPOPULER.COM – Pengurus Cabang (PC) Pagar Nusa Kabupaten Lebak terus memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program pelatihan dan sertifikasi kompetensi pelatih pencak silat. Program tersebut menjadi langkah strategis untuk memastikan para pelatih Pagar Nusa memiliki kemampuan teknis, pemahaman organisasi, serta legalitas kepelatihan yang diakui secara formal.
Program yang didorong bersama Pengurus Wilayah (PW) Pagar Nusa Provinsi Banten itu ditujukan bagi para pelatih yang selama ini aktif membina pesilat di berbagai lembaga pendidikan, sekolah, hingga pondok pesantren di Kabupaten Lebak.

Ketua Pagar Nusa Kabupaten Lebak, Royanudin, menegaskan bahwa sertifikasi pelatih bukan lagi sekadar kebutuhan administratif, melainkan bagian penting dari upaya meningkatkan profesionalisme organisasi dalam menjalankan pembinaan pencak silat.
Menurutnya, setiap pelatih yang menjalankan aktivitas kepelatihan harus memiliki kompetensi dan sertifikat kelayakan. Hal tersebut diperlukan agar proses pembinaan berjalan sesuai standar serta memiliki dasar legalitas yang jelas.
“Kegiatan pelatihan ini memang harus segera dilaksanakan karena sebagai pelatih Pagar Nusa, semuanya harus bersertifikat. Artinya, ada sertifikat kelayakan dan juga ada pendalaman jurus-jurus khusus Pagar Nusa,” ujar Royanudin.
Ia berharap program tersebut dapat menjadi momentum peningkatan kualitas seluruh pelatih, sehingga pembinaan Pagar Nusa di Kabupaten Lebak tidak hanya berkembang dari sisi kuantitas anggota, tetapi juga memiliki standar kualitas yang terukur.
Sertifikasi Menjadi Payung Legalitas Pelatih
Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Sekretaris IPSI Provinsi Banten Lebak, Kang Monas.
Ia menjelaskan bahwa sertifikasi memiliki peranan penting, terutama bagi para pelatih yang selama ini sudah menjalankan aktivitas pembinaan di sekolah maupun pondok pesantren, tetapi belum memiliki sertifikat kompetensi kepelatihan.
Menurut Kang Monas, legalitas dan kompetensi merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan. Seorang pelatih tidak cukup hanya menguasai teknik pencak silat, tetapi juga perlu memiliki pengakuan kompetensi melalui mekanisme sertifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Untuk mendukung hal tersebut, proses sertifikasi direncanakan melibatkan IPSI Provinsi Banten sebagai bagian dari penguatan legitimasi kepelatihan.
Selain itu, koordinasi dengan lembaga sertifikasi yang disebut sebagai Badan Sertifikasi Nasional (BSNV) juga tengah diupayakan agar para pelatih yang mengikuti program tersebut dapat memiliki pengakuan kompetensi pada tingkat nasional.
Dengan adanya program ini, diharapkan tidak ada lagi persoalan mengenai kejelasan kapasitas dan legalitas pelatih yang bertugas membina atlet maupun peserta didik di berbagai lembaga.
Tidak Hanya Mengasah Jurus, Penguatan Ideologi Organisasi Jadi Prioritas
Menariknya, program pelatihan yang disiapkan Pagar Nusa Lebak tidak hanya berorientasi pada peningkatan kemampuan teknis pencak silat.
Para peserta juga akan mendapatkan materi pendalaman Ke-NU-an dan Ke-Pagar Nusa-an.
Materi tersebut dipandang penting untuk memperkuat karakter, militansi, serta pemahaman para pelatih terhadap nilai-nilai organisasi yang menjadi bagian dari tradisi Nahdlatul Ulama.
Sebagai badan otonom Nahdlatul Ulama yang bergerak dalam bidang pencak silat, Pagar Nusa memiliki tanggung jawab tidak hanya melahirkan pesilat yang tangguh secara fisik, tetapi juga membentuk generasi yang berakhlak, disiplin, menjunjung tinggi persaudaraan, dan memiliki tanggung jawab sosial.
Karena itu, penguatan wawasan keorganisasian dan nilai-nilai ke-NU-an menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembinaan.
Harapannya, para pelatih mampu menjadi teladan bagi peserta didik, baik dalam penguasaan ilmu bela diri maupun dalam penerapan nilai-nilai moral dan etika kehidupan.
Database Seluruh PAC Dituntaskan, Pembenahan Organisasi Diperkuat
Di tengah upaya peningkatan kompetensi pelatih, PC Pagar Nusa Kabupaten Lebak juga melakukan pembenahan internal organisasi.
Salah satu langkah yang telah diselesaikan adalah pendataan database seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC), baik yang masih aktif maupun yang berstatus nonaktif.
Pendataan tersebut menjadi bagian penting dalam memetakan kekuatan organisasi di tingkat kecamatan.
Dengan tersedianya data yang lebih terstruktur, pengurus dapat mengetahui kondisi kelembagaan, perkembangan kepengurusan, serta kebutuhan pembinaan di masing-masing wilayah.
Langkah ini sekaligus menjadi fondasi untuk memperkuat koordinasi antara pengurus cabang dan pimpinan anak cabang agar program organisasi dapat berjalan lebih terarah.
Pembenahan administrasi juga diharapkan mampu mendorong kebangkitan kembali PAC yang belum aktif sehingga seluruh potensi organisasi dapat terakomodasi dalam satu sistem pembinaan yang terintegrasi.
Bidik 28 Kecamatan dan Ratusan Pondok Pesantren
Kabupaten Lebak memiliki potensi pengembangan pencak silat yang cukup besar. Dengan wilayah yang mencakup 28 kecamatan serta keberadaan ratusan pondok pesantren, Pagar Nusa memiliki peluang luas untuk memperkuat basis pembinaan dan kaderisasi.
Namun, potensi tersebut tentu membutuhkan dukungan tenaga pelatih yang kompeten, memiliki legalitas, serta memahami karakter dan kebutuhan peserta didik.
Melalui sinergi PW Pagar Nusa Banten, PC Pagar Nusa Lebak, dan IPSI, program sertifikasi diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi pemerataan kualitas kepelatihan hingga ke tingkat kecamatan.
Penguatan organisasi juga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan berlanjut melalui pembinaan rutin, peningkatan kapasitas pelatih, penataan administrasi, serta pengembangan prestasi atlet.
Pada akhirnya, Pagar Nusa Lebak dituntut mampu menjawab tantangan perkembangan olahraga pencak silat sekaligus mempertahankan identitasnya sebagai organisasi pencak silat yang berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Sertifikasi pelatih, penguatan ideologi, dan pembenahan organisasi menjadi tiga agenda penting yang diharapkan mampu membawa Pagar Nusa Kabupaten Lebak semakin profesional, solid, dan berdaya saing.
Bukan hanya mencetak pesilat yang kuat dalam gelanggang, tetapi juga membentuk generasi yang berkarakter, berakhlak, serta memiliki komitmen menjaga tradisi dan nilai-nilai luhur bangsa. (**/red)
Editor: Yudistira
















































