Menu

Mode Gelap
5 Tahun Holding UMi: Lebih Mudah, Dekat, dan Berdampak untuk Nasabah PNM Mekaar GAMPAR “Gedor” Kejari Lebak, Dugaan Skandal UPK-BUMDesma Kembali Menghangat Aktivis Desak Polda Banten dan Gubernur Banten Bertindak Tegas, Tambang Galian C di Kopo Dinilai Abaikan Keselamatan Pengguna Jalan Aktivis LSM JAPATI Akan Kawal Terus Penanganan Laporan Dugaan Korupsi Dana Desa Pasirkupa Diduga Bertindak Semena-mena, PLN ULP Rangkasbitung Disorot: Pemutusan Listrik Berbekal Surat Tanpa Tanda Tangan Manajer Transformasi UPK Menjadi BUMDesma: Antara Amanat Regulasi dan Dugaan Kejahatan Terstruktur atas Aset PNPM di Kabupaten Lebak

Advetorial

Tanah Bukan Barang Dagangan : Nobar Pesta Babi di Serang Jadi Forum Kritik Proyek Papua

badge-check


					0-2160x3840-0-0-{}-0-24#bokehtype:0#;ts:13021523080000;appts:1778592736201;qlty:1;illum:0 scene:0 humanIn:0; Perbesar

0-2160x3840-0-0-{}-0-24#bokehtype:0#;ts:13021523080000;appts:1778592736201;qlty:1;illum:0 scene:0 humanIn:0;

SERANG – Di tengah meningkatnya pembubaran diskusi dan pemutaran film dokumenter di sejumlah daerah, suasana berbeda justru terlihat di Padepokan Bumi Alit Padjadjaran. Ratusan aktivis, mahasiswa, pegiat lingkungan, hingga masyarakat adat berkumpul dalam agenda “Nobar dan Diskusi Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”, Selasa (12/5).

Kegiatan tersebut menjadi ruang konsolidasi kritik terhadap proyek-proyek besar negara di Papua yang dinilai mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat dan kelestarian hutan.
Pengasuh padepokan, Abah Elang Mangkubumi, menyampaikan bahwa film dokumenter itu bukan sekadar tayangan biasa, melainkan cermin dari persoalan kemanusiaan yang sedang berlangsung di Papua.

design4223

“Ini bukan soal anti pembangunan. Yang dipersoalkan adalah ketika pembangunan dilakukan dengan mengorbankan manusia, hutan, dan ruang hidup masyarakat adat,” ujarnya dalam sesi diskusi.

Film tersebut menyoroti kondisi masyarakat adat seperti suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu yang disebut mengalami tekanan akibat ekspansi proyek pangan dan industri skala besar di Papua.
Dalam forum itu, Abah Elang menilai paradigma pembangunan nasional saat ini terlalu berorientasi pada investasi dan eksploitasi sumber daya alam, namun minim keberpihakan terhadap masyarakat lokal.

“Hutan Papua itu bukan lahan kosong. Di sana ada sejarah, ada kehidupan, ada identitas. Kalau tanah adat dirampas atas nama proyek strategis, maka yang hilang bukan cuma pohon, tapi juga masa depan manusia,” tegasnya.

Ia juga menyinggung maraknya pembubaran agenda nobar dan diskusi film dokumenter di berbagai daerah. Menurutnya, tindakan represif justru menunjukkan ketakutan terhadap suara-suara kritis masyarakat.

“Kalau sebuah film dianggap berbahaya hanya karena membuka kenyataan, berarti ada yang sedang disembunyikan. Kebenaran tidak akan hilang hanya karena diskusinya dibubarkan,” katanya disambut tepuk tangan peserta.
Diskusi berlangsung hingga malam hari dengan pembahasan mengenai krisis iklim, konflik agraria, hak masyarakat adat, serta arah kebijakan pembangunan nasional. Sejumlah peserta menilai forum seperti ini penting untuk membuka ruang pendidikan publik di tengah minimnya informasi yang berimbang mengenai situasi di Papua.

Menutup pernyataannya, Abah Elang mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan tanah bukan hubungan ekonomi semata.
“Tanah ini bukan barang dagangan. Alam adalah ibu yang memberi kehidupan. Pemimpin yang bijak seharusnya menjaga, bukan menjualnya,” pungkasnya.

Acara nobar dan diskusi tersebut disebut menjadi awal konsolidasi lanjutan jaringan aktivis dan masyarakat sipil di Banten untuk mengangkat isu lingkungan dan hak masyarakat adat di berbagai wilayah Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

5 Tahun Holding UMi: Lebih Mudah, Dekat, dan Berdampak untuk Nasabah PNM Mekaar

25 Juni 2026 - 13:31 WIB

IMG 20260625 WA00811

Hutan Kabel di Lebak, Bisnis Internet Menjamur, Negara Kehilangan Wibawa?

17 Juni 2026 - 07:02 WIB

Poster ilustrasi opini menampilkan Yudistira, Ketua Umum Barisan Rakyat Lawan Korupsi (BARALAK) Nusantara, dengan latar belakang tiang listrik yang dipenuhi kabel internet semrawut. Gambar memuat elemen berita mengenai dugaan provider internet ilegal, penggunaan aset negara tanpa izin, potensi pungutan liar, serta tuntutan transparansi dan penegakan hukum

Perpisahan Kelas IX SMPN 3 Rangkasbitung Tahun Ajaran 2025-2026 Berlangsung Khidmat dan Penuh Haru

9 Juni 2026 - 02:20 WIB

Screenshot 20260609 091600 ChatGPT

Mengaku Wartawan Kompas, Oknum Kepsek di Lebak Diduga Peras Narasumber

29 Mei 2026 - 14:47 WIB

Screenshot 20260529 214125 Gallery

Truk Pasir Diduga Langgar Jam Operasional, Aktivitas PT MQS dan PT Permata Alam Dikeluhkan Warga Sajira

25 Mei 2026 - 12:50 WIB

IMG 20260525 WA0037

Dugaan Larangan Ujian dan Pemisahan Siswa di SD IT Insan Karima Lebak Tuai Sorotan, Dinilai Berpotensi Tekan Psikologis Anak

24 Mei 2026 - 17:12 WIB

IMG 20260524 WA0030

Disambut Jaksa Agung, Adhyaksa FC Banten Targetkan 5 Besar Liga 1

20 Mei 2026 - 10:16 WIB

IMG 20260520 WA0098

Nasabah PNM Mekaar Tunjukkan Perempuan Berdaya Mampu Menggerakkan Ekonomi Keluarga

16 Mei 2026 - 13:07 WIB

IMG 20260516 WA0136
Trending berita