Lebak, Bantenpopuler.com — Jalan poros desa di Kampung Sengkol, Desa Guradog, Kecamatan Curugbitung, kembali memakan korban. Dua tenaga pendidik dari SDN 3 Guradog, berinisial DI dan SM, terjatuh dari sepeda motor saat melintasi jalan yang rusak parah, berlumpur, dan dipenuhi lubang, Senin pagi (sekitar pukul 06.30 WIB).
Ironisnya, kecelakaan itu terjadi saat keduanya hendak menjalankan tugas negara—mengajar dan mengikuti upacara bendera. Namun, kondisi jalan yang hancur membuat pengabdian mereka dipertaruhkan dengan keselamatan.

“Saya berangkat pagi, tapi karena jalan licin dan penuh lumpur, motor terpeleset lalu saya terjatuh,” ungkap SM kepada Bantenpopuler.com. Senin (4/5/26).
Meski mengalami nyeri di bagian pinggang akibat insiden tersebut, SM tetap memaksakan diri melanjutkan perjalanan ke sekolah.
“Masih bisa lanjut, walaupun sakit bekas jatuh,” katanya singkat.
Kondisi jalan yang rusak bukan persoalan baru. Namun yang menjadi sorotan tajam, hingga kini belum ada langkah nyata dari pihak terkait meski keluhan warga sudah berulang kali disampaikan.
“Dulu masih ada perbaikan, sekarang seperti dibiarkan hancur. Sudah banyak yang jatuh,” tegas SM.
Fakta di lapangan menunjukkan, jalan tersebut bukan sekadar rusak, melainkan sudah masuk kategori membahayakan dan tidak layak dilalui—terutama saat musim hujan.
Galian Batu Diduga Jadi Biang Kerusakan
Warga secara terang-terangan menunjuk aktivitas galian batu sebagai penyebab utama kerusakan jalan. Lalu lalang kendaraan berat pengangkut material disebut menjadi faktor yang mempercepat kehancuran jalan desa.
“Setiap hari truk besar lewat. Jalan jadi hancur, berlumpur, dan penuh lubang. Ini jelas bukan kerusakan biasa,” ujar seorang warga.
Ia juga menegaskan bahwa insiden yang menimpa dua guru tersebut hanyalah satu dari sekian banyak korban.
“Sudah sering terjadi. Tadi pagi dua guru jatuh, kami yang nolong. Jangan tunggu korban lebih parah,” katanya.
Pengusaha Tak Bisa Cuci Tangan
Sorotan pun mengarah pada pengusaha galian batu yang beroperasi di wilayah tersebut. Warga menilai, aktivitas usaha yang meraup keuntungan besar itu tidak diimbangi dengan tanggung jawab terhadap kerusakan fasilitas umum.
“Kalau memang aktivitas galian yang merusak, ya harus bertanggung jawab. Jangan hanya ambil untung, tapi jalan desa hancur dan warga jadi korban,” tegas warga.
Desakan Keras: Perbaiki atau Hentikan!
Masyarakat mendesak pemerintah daerah dan pihak terkait untuk tidak tutup mata. Mereka menuntut tindakan tegas: perbaikan jalan secara menyeluruh dan penertiban kendaraan berat yang melintas.
Jika tidak ada langkah konkret dalam waktu dekat, warga memperingatkan potensi kecelakaan yang lebih serius—bahkan bisa merenggut nyawa.
“Ini bukan lagi soal nyaman atau tidak, tapi soal keselamatan. Kalau dibiarkan, korban berikutnya tinggal menunggu waktu,” tutup warga dengan nada geram.
(Redaksi Bantenpopuler.com)
Editor: Yudistira










