Menu

Mode Gelap
AMMCB Bongkar Dugaan Pembiaran Tambang Batu, Soroti Kerusakan Lingkungan dan Lemahnya Penegakan Hukum Guru Jadi Korban Jalan Hancur, Warga Tuding Keras Aktivitas Galian Batu di Kp Sengkol Kec. Curugbitung Ahmad Ludin Resmi Daftarkan Diri Bakal Calon Kades PAW Pamubulan Bahagia Belum Sampai ke Dapur Rakyat: Satu Tahun Menunggu Janji Kampanye Ratu Zakiyah Deki Setiawan Ditempatkan di Sel Maximum Security, AMMCB Soroti Dugaan Ketidakwajaran Sanksi Tambang Ilegal Mengamuk di Gunung Pinang, AMMCB Murka: Ada ‘Main Mata’?

Daerah

Guru Jadi Korban Jalan Hancur, Warga Tuding Keras Aktivitas Galian Batu di Kp Sengkol Kec. Curugbitung

badge-check


					Kondisi jalan rusak parah di Kampung Sekol, Desa Guradog, Curugbitung, memaksa pengguna jalan ekstra hati-hati. Dua guru SDN 3 Guradog sebelumnya terjatuh di lokasi ini, sementara siswa harus melintasi jalur berlumpur yang rawan kecelakaan setiap hari. foto: bantenpopuler.com Perbesar

Kondisi jalan rusak parah di Kampung Sekol, Desa Guradog, Curugbitung, memaksa pengguna jalan ekstra hati-hati. Dua guru SDN 3 Guradog sebelumnya terjatuh di lokasi ini, sementara siswa harus melintasi jalur berlumpur yang rawan kecelakaan setiap hari. foto: bantenpopuler.com

Lebak, Bantenpopuler.com — Jalan poros desa di Kampung Sengkol, Desa Guradog, Kecamatan Curugbitung, kembali memakan korban. Dua tenaga pendidik dari SDN 3 Guradog, berinisial DI dan SM, terjatuh dari sepeda motor saat melintasi jalan yang rusak parah, berlumpur, dan dipenuhi lubang, Senin pagi (sekitar pukul 06.30 WIB).

Ironisnya, kecelakaan itu terjadi saat keduanya hendak menjalankan tugas negara—mengajar dan mengikuti upacara bendera. Namun, kondisi jalan yang hancur membuat pengabdian mereka dipertaruhkan dengan keselamatan.

design4223

“Saya berangkat pagi, tapi karena jalan licin dan penuh lumpur, motor terpeleset lalu saya terjatuh,” ungkap SM kepada Bantenpopuler.com. Senin (4/5/26).

Meski mengalami nyeri di bagian pinggang akibat insiden tersebut, SM tetap memaksakan diri melanjutkan perjalanan ke sekolah.

“Masih bisa lanjut, walaupun sakit bekas jatuh,” katanya singkat.

Kondisi jalan yang rusak bukan persoalan baru. Namun yang menjadi sorotan tajam, hingga kini belum ada langkah nyata dari pihak terkait meski keluhan warga sudah berulang kali disampaikan.

“Dulu masih ada perbaikan, sekarang seperti dibiarkan hancur. Sudah banyak yang jatuh,” tegas SM.

Fakta di lapangan menunjukkan, jalan tersebut bukan sekadar rusak, melainkan sudah masuk kategori membahayakan dan tidak layak dilalui—terutama saat musim hujan.

Galian Batu Diduga Jadi Biang Kerusakan

Warga secara terang-terangan menunjuk aktivitas galian batu sebagai penyebab utama kerusakan jalan. Lalu lalang kendaraan berat pengangkut material disebut menjadi faktor yang mempercepat kehancuran jalan desa.

“Setiap hari truk besar lewat. Jalan jadi hancur, berlumpur, dan penuh lubang. Ini jelas bukan kerusakan biasa,” ujar seorang warga.

Ia juga menegaskan bahwa insiden yang menimpa dua guru tersebut hanyalah satu dari sekian banyak korban.

“Sudah sering terjadi. Tadi pagi dua guru jatuh, kami yang nolong. Jangan tunggu korban lebih parah,” katanya.

 Pengusaha Tak Bisa Cuci Tangan

Sorotan pun mengarah pada pengusaha galian batu yang beroperasi di wilayah tersebut. Warga menilai, aktivitas usaha yang meraup keuntungan besar itu tidak diimbangi dengan tanggung jawab terhadap kerusakan fasilitas umum.

“Kalau memang aktivitas galian yang merusak, ya harus bertanggung jawab. Jangan hanya ambil untung, tapi jalan desa hancur dan warga jadi korban,” tegas warga.

Desakan Keras: Perbaiki atau Hentikan!

Masyarakat mendesak pemerintah daerah dan pihak terkait untuk tidak tutup mata. Mereka menuntut tindakan tegas: perbaikan jalan secara menyeluruh dan penertiban kendaraan berat yang melintas.

Jika tidak ada langkah konkret dalam waktu dekat, warga memperingatkan potensi kecelakaan yang lebih serius—bahkan bisa merenggut nyawa.

“Ini bukan lagi soal nyaman atau tidak, tapi soal keselamatan. Kalau dibiarkan, korban berikutnya tinggal menunggu waktu,” tutup warga dengan nada geram.


(Redaksi Bantenpopuler.com)

Editor: Yudistira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AMMCB Bongkar Dugaan Pembiaran Tambang Batu, Soroti Kerusakan Lingkungan dan Lemahnya Penegakan Hukum

4 Mei 2026 - 07:42 WIB

Ilustrasi aktivitas tambang batu dengan alat berat dan truk di jalan rusak berlumpur, disertai visual protes masyarakat terhadap kerusakan lingkungan dan dugaan pembiaran hukum

Tambang Ilegal Mengamuk di Gunung Pinang, AMMCB Murka: Ada ‘Main Mata’?

25 April 2026 - 08:26 WIB

Screenshot 20260425 151721 ChatGPT

Deki Setiawan Diisolasi di Sel Maximum Security, Baralak Nusantara: Ini Bukan Pembinaan, Ini Dugaan Pelanggaran HAM

23 April 2026 - 23:58 WIB

Ilustrasi narapidana di dalam sel maximum security dengan latar kolase elemen berita, dokumen hukum, dan headline, disertai cap air “BANTEN POPULER” yang menyoroti kasus Deki Setiawan.

Sidang Praperadilan Temi J. Putra di PN Tangerang Ditunda, Kuasa Hukum Soroti Dugaan Kejanggalan Administratif

22 April 2026 - 10:58 WIB

Screenshot 20260422 175708 Gallery

Gunung Pinang Dikeruk Lagi: Ketika Segel Negara Tak Lagi Bertaring

21 April 2026 - 01:20 WIB

Aktivitas alat berat di lokasi tambang ilegal kawasan Gunung Pinang, Serang, Banten, yang kembali beroperasi meski sempat disegel polisi.

Budaya K3 di PT. Cemindo Dinilai Masih Rendah, Dinas Siapkan Pembinaan Masif

18 April 2026 - 09:04 WIB

IMG 20260418 160022

LSM NIL “Kunci” Kasus Tambang Cihara, Desak Polda Banten Buka Terang: Jangan Ada Ruang Gelap

16 April 2026 - 18:55 WIB

Screenshot 20260417 015409 ChatGPT

Dugaan Pungli Disnaker Lebak: Modus “Biaya Perjalanan Dinas” Disorot Aktivis

16 April 2026 - 06:34 WIB

Screenshot 20260416 133218 ChatGPT
Trending berita