Menu

Mode Gelap
Diduga Bertindak Semena-mena, PLN ULP Rangkasbitung Disorot: Pemutusan Listrik Berbekal Surat Tanpa Tanda Tangan Manajer Transformasi UPK Menjadi BUMDesma: Antara Amanat Regulasi dan Dugaan Kejahatan Terstruktur atas Aset PNPM di Kabupaten Lebak Hutan Kabel di Lebak, Bisnis Internet Menjamur, Negara Kehilangan Wibawa? GAIB-212 Siap Kepung PLN UP3 Banten Selatan, Bongkar Dugaan Pungli dan Carut-Marut Penggunaan Aset Negara Ketua GAIB-212 Lebak Buka Ruang Koordinasi dengan OPD, Namun Tetap Kawal Kepentingan Rakyat Perpisahan Kelas IX SMPN 3 Rangkasbitung Tahun Ajaran 2025-2026 Berlangsung Khidmat dan Penuh Haru

Banten

Abah Elang Mangkubumi Keluarkan Peringatan Nurani atas Pemaksaan Program MBG

badge-check


					Abah Elang Mangkubumi berpose di depan bendera Merah Putih, merepresentasikan suara moral publik yang menyerukan agar kedaulatan rakyat tetap menjadi dasar utama dalam sistem demokrasi Indonesia.
(Foto: Dok. Abah Elang Mangkubumi/Bantenpopuler.com) Perbesar

Abah Elang Mangkubumi berpose di depan bendera Merah Putih, merepresentasikan suara moral publik yang menyerukan agar kedaulatan rakyat tetap menjadi dasar utama dalam sistem demokrasi Indonesia. (Foto: Dok. Abah Elang Mangkubumi/Bantenpopuler.com)

Bantenpopuler.com – Tokoh masyarakat dan pemerhati kebijakan publik, Abah Elang Mangkubumi, menyampaikan peringatan moral dan kebangsaan terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilainya dijalankan secara tergesa dan terkesan dipaksakan tanpa kehati-hatian negara.

Dalam pernyataan tertulisnya, Abah Elang menegaskan bahwa niat baik pemerintah tidak otomatis menjadikan sebuah kebijakan benar, terutama jika dalam pelaksanaannya menyingkirkan prinsip kehati-hatian, prioritas nasional, dan keadilan struktural.

design4223

“Dalam agama, kekuasaan adalah ujian. Dalam negara, kekuasaan adalah tanggung jawab. Dan dalam sejarah, kekuasaan akan diadili bukan oleh pencitraan, tetapi oleh akibat kebijakannya,” tegasnya.

Dinilai Salah Menempatkan Prioritas Negara

Abah Elang menilai, di tengah persoalan bangsa yang masih kompleks—mulai dari kemiskinan struktural, ketimpangan pendidikan dan layanan kesehatan, hingga lemahnya perlindungan bagi petani, nelayan, dan penciptaan lapangan kerja—pemerintah justru memaksakan program konsumtif berskala nasional.

Menurutnya, pendekatan tersebut berpotensi menyederhanakan persoalan bangsa secara berbahaya.
“Memberi makan bukan jawaban atas semua krisis. Negara seharusnya membangun kemampuan rakyat untuk hidup mandiri, bukan sekadar mengatur cara rakyat diberi makan,” ujarnya.

Ia bahkan mengaitkan persoalan ini dengan kaidah moral dan agama, bahwa mendahulukan yang tidak prioritas sambil melalaikan kewajiban struktural adalah kekeliruan serius dalam kebijakan negara.

Soroti Masalah Teknis dan Risiko Anggaran

Abah Elang juga menyoroti berbagai persoalan lapangan dalam pelaksanaan MBG, mulai dari distribusi yang tidak merata, kualitas makanan yang tidak seragam, hingga keterlambatan distribusi di sejumlah daerah.

Selain itu, ketergantungan pada vendor besar dinilai membuka ruang dominasi modal dan mengabaikan peran petani serta produsen lokal. Ia juga mengingatkan potensi pemborosan anggaran akibat lemahnya pengawasan, mengingat program tersebut bersifat besar dan berulang.

“Jika semua risiko ini sudah diketahui namun tetap dipaksakan, maka yang dipertaruhkan bukan lagi soal teknis, melainkan akhlak kekuasaan,” katanya.
Seruan Langsung kepada Presiden

Dalam pernyataannya, Abah Elang secara langsung menyampaikan seruan kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar berani melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program MBG.

“Mengaji ulang kebijakan bukan tanda kalah. Menarik rem bukan tanda lemah. Justru memaksakan kebijakan yang bermasalah adalah awal dari kegagalan yang lebih besar,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa sejarah tidak mencatat pemimpin dari seberapa keras mempertahankan kebijakan, melainkan dari keberanian mengoreksi arah ketika tanda bahaya muncul.

Peringatan Nurani untuk Negara

Menutup pernyataannya, Abah Elang menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan bukan bentuk perlawanan terhadap negara, melainkan peringatan agar negara tidak melawan nuraninya sendiri.

“Bangsa ini tidak kekurangan program, tetapi kekurangan keberanian untuk berhenti dan menimbang ulang,” pungkasnya.
Ia berharap para pemimpin bangsa senantiasa diberi petunjuk untuk menjalankan kebijakan yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada kemaslahatan jangka panjang rakyat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hutan Kabel di Lebak, Bisnis Internet Menjamur, Negara Kehilangan Wibawa?

17 Juni 2026 - 07:02 WIB

Poster ilustrasi opini menampilkan Yudistira, Ketua Umum Barisan Rakyat Lawan Korupsi (BARALAK) Nusantara, dengan latar belakang tiang listrik yang dipenuhi kabel internet semrawut. Gambar memuat elemen berita mengenai dugaan provider internet ilegal, penggunaan aset negara tanpa izin, potensi pungutan liar, serta tuntutan transparansi dan penegakan hukum

Mengaku Wartawan Kompas, Oknum Kepsek di Lebak Diduga Peras Narasumber

29 Mei 2026 - 14:47 WIB

Screenshot 20260529 214125 Gallery

Truk Pasir Diduga Langgar Jam Operasional, Aktivitas PT MQS dan PT Permata Alam Dikeluhkan Warga Sajira

25 Mei 2026 - 12:50 WIB

IMG 20260525 WA0037

Dugaan Larangan Ujian dan Pemisahan Siswa di SD IT Insan Karima Lebak Tuai Sorotan, Dinilai Berpotensi Tekan Psikologis Anak

24 Mei 2026 - 17:12 WIB

IMG 20260524 WA0030

Disambut Jaksa Agung, Adhyaksa FC Banten Targetkan 5 Besar Liga 1

20 Mei 2026 - 10:16 WIB

IMG 20260520 WA0098

Belanja Pegawai Dominasi RAPBD 2026, Kemiskinan di Kabupaten Serang Jadi Sorotan

15 Mei 2026 - 11:36 WIB

Screenshot 20260515 182934 ChatGPT

Adhyaksa FC Pilih Bertahan di Banten, Eko Setyawan: “Ini Klub Milik Wong Banten”

15 Mei 2026 - 02:40 WIB

IMG 20260515 WA0013

Longsor di Jalur Cipanas–Ciparay Lebak Sempat Ganggu Lalu Lintas, Petugas Bergerak Cepat

14 Mei 2026 - 11:19 WIB

Screenshot 20260514 181859 ChatGPT
Trending Banten