Menu

Mode Gelap
AMMCB Resmi Laporkan Dugaan Tambang Batu Ilegal ke Kapolda Banten Sampah, Pengangguran, Kemiskinan Masih Layakkah Disebut “Bahagia”? AMMCB Bongkar Dugaan Pembiaran Tambang Batu, Soroti Kerusakan Lingkungan dan Lemahnya Penegakan Hukum Guru Jadi Korban Jalan Hancur, Warga Tuding Keras Aktivitas Galian Batu di Kp Sengkol Kec. Curugbitung Ahmad Ludin Resmi Daftarkan Diri Bakal Calon Kades PAW Pamubulan Bahagia Belum Sampai ke Dapur Rakyat: Satu Tahun Menunggu Janji Kampanye Ratu Zakiyah

Banten

Abah Elang Mangkubumi Keluarkan Peringatan Nurani atas Pemaksaan Program MBG

badge-check


					Abah Elang Mangkubumi berpose di depan bendera Merah Putih, merepresentasikan suara moral publik yang menyerukan agar kedaulatan rakyat tetap menjadi dasar utama dalam sistem demokrasi Indonesia.
(Foto: Dok. Abah Elang Mangkubumi/Bantenpopuler.com) Perbesar

Abah Elang Mangkubumi berpose di depan bendera Merah Putih, merepresentasikan suara moral publik yang menyerukan agar kedaulatan rakyat tetap menjadi dasar utama dalam sistem demokrasi Indonesia. (Foto: Dok. Abah Elang Mangkubumi/Bantenpopuler.com)

Bantenpopuler.com – Tokoh masyarakat dan pemerhati kebijakan publik, Abah Elang Mangkubumi, menyampaikan peringatan moral dan kebangsaan terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilainya dijalankan secara tergesa dan terkesan dipaksakan tanpa kehati-hatian negara.

Dalam pernyataan tertulisnya, Abah Elang menegaskan bahwa niat baik pemerintah tidak otomatis menjadikan sebuah kebijakan benar, terutama jika dalam pelaksanaannya menyingkirkan prinsip kehati-hatian, prioritas nasional, dan keadilan struktural.

design4223

“Dalam agama, kekuasaan adalah ujian. Dalam negara, kekuasaan adalah tanggung jawab. Dan dalam sejarah, kekuasaan akan diadili bukan oleh pencitraan, tetapi oleh akibat kebijakannya,” tegasnya.

Dinilai Salah Menempatkan Prioritas Negara

Abah Elang menilai, di tengah persoalan bangsa yang masih kompleks—mulai dari kemiskinan struktural, ketimpangan pendidikan dan layanan kesehatan, hingga lemahnya perlindungan bagi petani, nelayan, dan penciptaan lapangan kerja—pemerintah justru memaksakan program konsumtif berskala nasional.

Menurutnya, pendekatan tersebut berpotensi menyederhanakan persoalan bangsa secara berbahaya.
“Memberi makan bukan jawaban atas semua krisis. Negara seharusnya membangun kemampuan rakyat untuk hidup mandiri, bukan sekadar mengatur cara rakyat diberi makan,” ujarnya.

Ia bahkan mengaitkan persoalan ini dengan kaidah moral dan agama, bahwa mendahulukan yang tidak prioritas sambil melalaikan kewajiban struktural adalah kekeliruan serius dalam kebijakan negara.

Soroti Masalah Teknis dan Risiko Anggaran

Abah Elang juga menyoroti berbagai persoalan lapangan dalam pelaksanaan MBG, mulai dari distribusi yang tidak merata, kualitas makanan yang tidak seragam, hingga keterlambatan distribusi di sejumlah daerah.

Selain itu, ketergantungan pada vendor besar dinilai membuka ruang dominasi modal dan mengabaikan peran petani serta produsen lokal. Ia juga mengingatkan potensi pemborosan anggaran akibat lemahnya pengawasan, mengingat program tersebut bersifat besar dan berulang.

“Jika semua risiko ini sudah diketahui namun tetap dipaksakan, maka yang dipertaruhkan bukan lagi soal teknis, melainkan akhlak kekuasaan,” katanya.
Seruan Langsung kepada Presiden

Dalam pernyataannya, Abah Elang secara langsung menyampaikan seruan kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar berani melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program MBG.

“Mengaji ulang kebijakan bukan tanda kalah. Menarik rem bukan tanda lemah. Justru memaksakan kebijakan yang bermasalah adalah awal dari kegagalan yang lebih besar,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa sejarah tidak mencatat pemimpin dari seberapa keras mempertahankan kebijakan, melainkan dari keberanian mengoreksi arah ketika tanda bahaya muncul.

Peringatan Nurani untuk Negara

Menutup pernyataannya, Abah Elang menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan bukan bentuk perlawanan terhadap negara, melainkan peringatan agar negara tidak melawan nuraninya sendiri.

“Bangsa ini tidak kekurangan program, tetapi kekurangan keberanian untuk berhenti dan menimbang ulang,” pungkasnya.
Ia berharap para pemimpin bangsa senantiasa diberi petunjuk untuk menjalankan kebijakan yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada kemaslahatan jangka panjang rakyat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sampah, Pengangguran, Kemiskinan Masih Layakkah Disebut “Bahagia”?

5 Mei 2026 - 11:28 WIB

IMG 20260501 WA0011

Ahmad Ludin Resmi Daftarkan Diri Bakal Calon Kades PAW Pamubulan

3 Mei 2026 - 04:00 WIB

IMG 20260503 WA0007

Bahagia Belum Sampai ke Dapur Rakyat: Satu Tahun Menunggu Janji Kampanye Ratu Zakiyah

1 Mei 2026 - 08:36 WIB

IMG 20260501 WA0011

Deki Setiawan Ditempatkan di Sel Maximum Security, AMMCB Soroti Dugaan Ketidakwajaran Sanksi

30 April 2026 - 05:46 WIB

IMG 20260430 WA0021

Tambang Ilegal Mengamuk di Gunung Pinang, AMMCB Murka: Ada ‘Main Mata’?

25 April 2026 - 08:26 WIB

Screenshot 20260425 151721 ChatGPT

Deki Setiawan Diisolasi di Sel Maximum Security, Baralak Nusantara: Ini Bukan Pembinaan, Ini Dugaan Pelanggaran HAM

23 April 2026 - 23:58 WIB

Ilustrasi narapidana di dalam sel maximum security dengan latar kolase elemen berita, dokumen hukum, dan headline, disertai cap air “BANTEN POPULER” yang menyoroti kasus Deki Setiawan.

Cukup! PBNU Bukan Panggung Politik Siapa Pun

23 April 2026 - 12:06 WIB

IMG 20260423 WA0032

Gunung Pinang Dikeruk Lagi: Ketika Segel Negara Tak Lagi Bertaring

21 April 2026 - 01:20 WIB

Aktivitas alat berat di lokasi tambang ilegal kawasan Gunung Pinang, Serang, Banten, yang kembali beroperasi meski sempat disegel polisi.
Trending Banten