Menu

Mode Gelap
Peserta Kecewa, Program “Terima Kasih Muadzin” Dinilai Tak Jelas dan Berpotensi PHP Karang Taruna Kabupaten Serang Perkuat Mental dan Spiritual Pemuda Dari Guru Bantu hingga Kepala Sekolah: Kisah Inspiratif Umsaroh, Pendidik Lebak yang Sukses Bangun UMKM Batik Canting Baralak Nusantara Desak Penertiban Parkir Liar di Pusat Kota Rangkasbitung Kepala SDN Malabar Bantah Isu Jual Beli Jabatan Kepala Sekolah di Cibadak Lebak IMALA Soroti Kualitas Makanan MBG di Lebak, Desak Sidak Dapur dan Penutupan Jika Tak Penuhi Standar

Banten

Abah Elang Mangkubumi Keluarkan Peringatan Nurani atas Pemaksaan Program MBG

badge-check


					Abah Elang Mangkubumi berpose di depan bendera Merah Putih, merepresentasikan suara moral publik yang menyerukan agar kedaulatan rakyat tetap menjadi dasar utama dalam sistem demokrasi Indonesia.
(Foto: Dok. Abah Elang Mangkubumi/Bantenpopuler.com) Perbesar

Abah Elang Mangkubumi berpose di depan bendera Merah Putih, merepresentasikan suara moral publik yang menyerukan agar kedaulatan rakyat tetap menjadi dasar utama dalam sistem demokrasi Indonesia. (Foto: Dok. Abah Elang Mangkubumi/Bantenpopuler.com)

Bantenpopuler.com – Tokoh masyarakat dan pemerhati kebijakan publik, Abah Elang Mangkubumi, menyampaikan peringatan moral dan kebangsaan terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilainya dijalankan secara tergesa dan terkesan dipaksakan tanpa kehati-hatian negara.

Dalam pernyataan tertulisnya, Abah Elang menegaskan bahwa niat baik pemerintah tidak otomatis menjadikan sebuah kebijakan benar, terutama jika dalam pelaksanaannya menyingkirkan prinsip kehati-hatian, prioritas nasional, dan keadilan struktural.

design4223

“Dalam agama, kekuasaan adalah ujian. Dalam negara, kekuasaan adalah tanggung jawab. Dan dalam sejarah, kekuasaan akan diadili bukan oleh pencitraan, tetapi oleh akibat kebijakannya,” tegasnya.

Dinilai Salah Menempatkan Prioritas Negara

Abah Elang menilai, di tengah persoalan bangsa yang masih kompleks—mulai dari kemiskinan struktural, ketimpangan pendidikan dan layanan kesehatan, hingga lemahnya perlindungan bagi petani, nelayan, dan penciptaan lapangan kerja—pemerintah justru memaksakan program konsumtif berskala nasional.

Menurutnya, pendekatan tersebut berpotensi menyederhanakan persoalan bangsa secara berbahaya.
“Memberi makan bukan jawaban atas semua krisis. Negara seharusnya membangun kemampuan rakyat untuk hidup mandiri, bukan sekadar mengatur cara rakyat diberi makan,” ujarnya.

Ia bahkan mengaitkan persoalan ini dengan kaidah moral dan agama, bahwa mendahulukan yang tidak prioritas sambil melalaikan kewajiban struktural adalah kekeliruan serius dalam kebijakan negara.

Soroti Masalah Teknis dan Risiko Anggaran

Abah Elang juga menyoroti berbagai persoalan lapangan dalam pelaksanaan MBG, mulai dari distribusi yang tidak merata, kualitas makanan yang tidak seragam, hingga keterlambatan distribusi di sejumlah daerah.

Selain itu, ketergantungan pada vendor besar dinilai membuka ruang dominasi modal dan mengabaikan peran petani serta produsen lokal. Ia juga mengingatkan potensi pemborosan anggaran akibat lemahnya pengawasan, mengingat program tersebut bersifat besar dan berulang.

“Jika semua risiko ini sudah diketahui namun tetap dipaksakan, maka yang dipertaruhkan bukan lagi soal teknis, melainkan akhlak kekuasaan,” katanya.
Seruan Langsung kepada Presiden

Dalam pernyataannya, Abah Elang secara langsung menyampaikan seruan kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar berani melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program MBG.

“Mengaji ulang kebijakan bukan tanda kalah. Menarik rem bukan tanda lemah. Justru memaksakan kebijakan yang bermasalah adalah awal dari kegagalan yang lebih besar,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa sejarah tidak mencatat pemimpin dari seberapa keras mempertahankan kebijakan, melainkan dari keberanian mengoreksi arah ketika tanda bahaya muncul.

Peringatan Nurani untuk Negara

Menutup pernyataannya, Abah Elang menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan bukan bentuk perlawanan terhadap negara, melainkan peringatan agar negara tidak melawan nuraninya sendiri.

“Bangsa ini tidak kekurangan program, tetapi kekurangan keberanian untuk berhenti dan menimbang ulang,” pungkasnya.
Ia berharap para pemimpin bangsa senantiasa diberi petunjuk untuk menjalankan kebijakan yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada kemaslahatan jangka panjang rakyat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Peserta Kecewa, Program “Terima Kasih Muadzin” Dinilai Tak Jelas dan Berpotensi PHP

19 Maret 2026 - 20:25 WIB

Screenshot 2026 03 20 03 13 31 55 1c337646f29875672b5a61192b9010f9

Karang Taruna Kabupaten Serang Perkuat Mental dan Spiritual Pemuda

19 Maret 2026 - 11:50 WIB

IMG 20260319 WA0110

IMALA Soroti Kualitas Makanan MBG di Lebak, Desak Sidak Dapur dan Penutupan Jika Tak Penuhi Standar

14 Maret 2026 - 16:38 WIB

IMG 20260314 170920

Koalisi Aktivis Lebak Bersatu Surati ESDM Banten, Minta Audiensi dan Verifikasi Lapangan Terkait Galian Tanah Cadas di Desa Paja

14 Maret 2026 - 00:05 WIB

Screenshot 2026 03 14 07 02 42 99 439a3fec0400f8974d35eed09a31f914

IMALA Soroti Dugaan Markup Program MBG di Lebak, Desak Audit dan Ingatkan Tanggung Jawab Korwil

13 Maret 2026 - 11:15 WIB

IMG 20260313 WA0037 e1773400450522

Abah Elang Mangkubumi: Spiritualitas, Islam, dan Kebangsaan Fondasi Kebangkitan Peradaban Nusantara

12 Maret 2026 - 20:09 WIB

IMG 20260313 WA0004 e1773346153781
Trending Banten