Menu

Mode Gelap
5 Tahun Holding UMi: Lebih Mudah, Dekat, dan Berdampak untuk Nasabah PNM Mekaar GAMPAR “Gedor” Kejari Lebak, Dugaan Skandal UPK-BUMDesma Kembali Menghangat Aktivis Desak Polda Banten dan Gubernur Banten Bertindak Tegas, Tambang Galian C di Kopo Dinilai Abaikan Keselamatan Pengguna Jalan Aktivis LSM JAPATI Akan Kawal Terus Penanganan Laporan Dugaan Korupsi Dana Desa Pasirkupa Diduga Bertindak Semena-mena, PLN ULP Rangkasbitung Disorot: Pemutusan Listrik Berbekal Surat Tanpa Tanda Tangan Manajer Transformasi UPK Menjadi BUMDesma: Antara Amanat Regulasi dan Dugaan Kejahatan Terstruktur atas Aset PNPM di Kabupaten Lebak

Banten

Abah Elang Mangkubumi Sampaikan Tanggapan Keras atas Pernyataan Presiden Soal Sawit

badge-check


					Abah Elang Mangkubumi Sampaikan Tanggapan Keras atas Pernyataan Presiden Soal Sawit Perbesar

“Anugerah Tak Boleh Menjadi Dalih Kerusakan”

Lebak, Banten – Sesepuh budaya dan pemerhati lingkungan nasional, Abah Elang Mangkubumi, menyampaikan pernyataan keras menanggapi pidato Presiden Republik Indonesia, H. Prabowo Subianto, yang menyebut bahwa sawit adalah anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia. Menurut Abah, penyebutan sawit sebagai anugerah tidak boleh menjadi pembenaran atas kerusakan ekologis yang telah terjadi di berbagai daerah, terutama di Sumatra yang baru-baru ini dilanda banjir besar.

design4223

Abah menegaskan bahwa narasi ekonomi tidak boleh menutup mata terhadap fakta kerusakan lingkungan yang terus terjadi akibat tata kelola sawit yang dinilai lemah dan sarat kepentingan.

“Sawit boleh disebut anugerah, tetapi banjir Sumatra adalah peringatan keras dari langit bahwa ada yang tidak beres dalam pengurusannya,” tegas Abah Elang Mangkubumi melalui keterangan tertulis, Jumat.

Abah menyebut bahwa bencana banjir yang merendam sejumlah wilayah di Sumatra bukan semata akibat curah hujan ekstrem, melainkan dampak dari penggundulan hutan dan ekspansi sawit yang tidak terkendali selama puluhan tahun.

“Ketika hutan diganti lautan sawit, ketika bukit diratakan, ketika sungai disempitkan, maka banjir bukan lagi bencana alam melainkan bencana kebijakan,” ujarnya.

 

Abah menilai bahwa rakyat terus menjadi korban kehilangan rumah, mata pencaharian, bahkan nyawa, sementara segelintir pihak mendapatkan keuntungan ekonomi dari industri sawit.

Dalam pernyataannya, Abah menegaskan bahwa sumber persoalan bukan pada tanaman sawit, melainkan keserakahan dan lemahnya tata kelola pemerintah serta korporasi.

Ia menyoroti beberapa penyebab utama kerusakan lingkungan:

– Izin tumpang tindih,

– Pembukaan lahan tanpa kontrol,

– Masuknya kebun sawit ke kawasan hutan lindung,

– Pembiaran oleh pemerintah pusat maupun daerah.

“Anugerah Tuhan tidak akan pernah datang dengan banjir setinggi dada di Sumatra,” tegasnya.

Dengan tetap menjaga etika kepada kepala negara, Abah meminta pemerintah melakukan langkah korektif nyata.“Bangsa ini menghormati Bapak Presiden. Namun hormat bukan berarti bisu. Ketika alam hancur, kami harus bersuara,” ucap Abah.

 

Ia mendesak agar pemerintah:

1. Membersihkan mafia perizinan sawit,

2. Membongkar kebun yang memasuki kawasan hutan,

3. Menghentikan perluasan sawit di provinsi yang sudah jenuh ekologis,

4. Menjadikan banjir Sumatra sebagai darurat reformasi lingkungan.

“Negara Tidak Boleh Tunduk pada Korporasi”

Abah juga mengingatkan bahwa industri sawit telah berkembang begitu besar hingga terlihat seolah negara tunduk pada kepentingan korporasi.

“Negara adalah ibu dari rakyat, bukan pelayan bagi konglomerasi,” katanya.

Menurutnya, jika tata kelola sawit tidak segera direformasi, maka bencana ekologis serupa akan menjadi ancaman bagi seluruh wilayah Indonesia.

Di akhir pernyataannya, Abah menyerukan kesadaran bersama bahwa keselamatan alam harus menjadi prioritas utama.

“Anugerah Tuhan adalah hutan, sungai, tanah, dan kehidupan. Sawit hanyalah salah satu tanaman. Jangan sampai kita memuja satu anugerah dengan menghancurkan anugerah lainnya,” tutup Abah.

 

> “Banjir Sumatra adalah peringatan. Dan peringatan dari alam tidak boleh diabaikan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hutan Kabel di Lebak, Bisnis Internet Menjamur, Negara Kehilangan Wibawa?

17 Juni 2026 - 07:02 WIB

Poster ilustrasi opini menampilkan Yudistira, Ketua Umum Barisan Rakyat Lawan Korupsi (BARALAK) Nusantara, dengan latar belakang tiang listrik yang dipenuhi kabel internet semrawut. Gambar memuat elemen berita mengenai dugaan provider internet ilegal, penggunaan aset negara tanpa izin, potensi pungutan liar, serta tuntutan transparansi dan penegakan hukum

Mengaku Wartawan Kompas, Oknum Kepsek di Lebak Diduga Peras Narasumber

29 Mei 2026 - 14:47 WIB

Screenshot 20260529 214125 Gallery

Truk Pasir Diduga Langgar Jam Operasional, Aktivitas PT MQS dan PT Permata Alam Dikeluhkan Warga Sajira

25 Mei 2026 - 12:50 WIB

IMG 20260525 WA0037

Dugaan Larangan Ujian dan Pemisahan Siswa di SD IT Insan Karima Lebak Tuai Sorotan, Dinilai Berpotensi Tekan Psikologis Anak

24 Mei 2026 - 17:12 WIB

IMG 20260524 WA0030

Disambut Jaksa Agung, Adhyaksa FC Banten Targetkan 5 Besar Liga 1

20 Mei 2026 - 10:16 WIB

IMG 20260520 WA0098

Belanja Pegawai Dominasi RAPBD 2026, Kemiskinan di Kabupaten Serang Jadi Sorotan

15 Mei 2026 - 11:36 WIB

Screenshot 20260515 182934 ChatGPT

Adhyaksa FC Pilih Bertahan di Banten, Eko Setyawan: “Ini Klub Milik Wong Banten”

15 Mei 2026 - 02:40 WIB

IMG 20260515 WA0013

Longsor di Jalur Cipanas–Ciparay Lebak Sempat Ganggu Lalu Lintas, Petugas Bergerak Cepat

14 Mei 2026 - 11:19 WIB

Screenshot 20260514 181859 ChatGPT
Trending Banten