Menu

Mode Gelap
Tanah Bukan Barang Dagangan : Nobar Pesta Babi di Serang Jadi Forum Kritik Proyek Papua Seleksi PAW Desa Darmasari, Eko Raih Nilai Tertinggi 312 Polres Lebak Bongkar Peredaran Obat Terlarang di Banjarsari, Tiga Pengedar Diciduk Dini Har AMMCB Resmi Laporkan Dugaan Tambang Batu Ilegal ke Kapolda Banten Sampah, Pengangguran, Kemiskinan Masih Layakkah Disebut “Bahagia”? AMMCB Bongkar Dugaan Pembiaran Tambang Batu, Soroti Kerusakan Lingkungan dan Lemahnya Penegakan Hukum

berita

Apa Gunanya Makan Bergizi Jika Anak-Anak Banten Tak Bisa Sekolah?

badge-check


					Tiga tokoh muda Banten berdiskusi santai mengenai arah pembangunan dan isu pendidikan daerah di salah satu ruang pertemuan di Lebak, Banten.
(Foto: Dok. Bantenpopuler.com) Perbesar

Tiga tokoh muda Banten berdiskusi santai mengenai arah pembangunan dan isu pendidikan daerah di salah satu ruang pertemuan di Lebak, Banten. (Foto: Dok. Bantenpopuler.com)

BANTEN | Bantenpopuler.com — “Apa gunanya makan bergizi, jika anak-anak itu tak bisa sekolah?” Pertanyaan menohok itu disampaikan oleh tokoh Banten, Abah Elang Mangkubumi, sebagai bentuk kritik terhadap kondisi pendidikan di Provinsi Banten yang dinilai semakin memprihatinkan.

Banten, tanah yang berdiri di atas doa para ulama dan darah para pejuang, kini dihadapkan pada kenyataan pahit: ribuan anak kehilangan hak dasar mereka untuk bersekolah.

design4223

Data resmi menunjukkan, sebanyak 25.274 anak di Banten tercatat putus sekolah pada jenjang SD dan SMP.
Rinciannya mencakup:

  • 12.778 anak SD dan 12.486 anak SMP.
  • Di Kabupaten Tangerang, 14.633 anak berhenti di tengah jalan pendidikan.
  • Di Lebak, 8.462 anak kehilangan harapan.
  • Di Pandeglang, 5.968 anak menukar cita-cita dengan kerja kasar.
  • Sementara di Kota Serang, jantung pemerintahan provinsi, lebih dari 1.500 anak masih tertinggal dari hak dasarnya.

“Ini bukan sekadar statistik, ini adalah jerit sunyi masa depan,” tegas Abah Elang. “Mereka bukan angka yang bisa dihapus — mereka adalah amanah yang sedang diabaikan.”

Program Makan Bergizi Gratis yang digaungkan pemerintah pusat dinilai indah di atas kertas, namun masih jauh dari harapan di lapangan.

Abah Elang mempertanyakan efektivitas program tersebut yang dinilainya belum menyentuh akar persoalan pendidikan.

“Apa gunanya makan bergizi, jika anak-anak itu tak bisa sekolah?
Apa gunanya susu dan nasi, jika mereka tak punya buku dan guru?”
Abah Elang Mangkubumi

Menurutnya, perut kenyang tak berarti jika pikiran tetap lapar.

“Kebodohan jauh lebih mematikan daripada kelaparan,” tambahnya.

Abah Elang menegaskan bahwa program itu seharusnya menjadi jembatan untuk menarik kembali anak-anak miskin ke ruang belajar, bukan sekadar alat pencitraan politik.

“Banten tidak butuh gimik kesejahteraan, Banten butuh keberpihakan yang nyata — yang menyentuh perut dan akal sekaligus,” ujarnya.

Seruan Tegas Abah Elang Mangkubumi

Dalam pernyataannya, Abah Elang menyampaikan tiga seruan moral dan politik kepada para pemangku kepentingan di Banten:

  1. Untuk Pemerintah Daerah dan DPRD Banten:
    “Hentikan parade proyek. Turunlah ke kampung, dusun, dan pesisir. Lihat wajah anak-anak yang kehilangan haknya karena kebijakan yang tak berpihak.”

  2. Untuk Dinas Pendidikan:
    “Setiap anak yang putus sekolah adalah bukti kegagalan sistem. Jangan hanya menghitung jumlah sekolah baru, tapi hitunglah berapa anak yang berhasil kembali belajar.”

  3. Untuk Masyarakat dan Ulama:
    “Pendidikan bukan tugas pemerintah semata, tetapi amanah umat. Mari kita jaga agar anak-anak Banten tumbuh dalam ilmu, bukan dalam kelaparan dan keputusasaan.”

Penegasan Abah Elang: Pemimpin Jangan Tuli Terhadap Jeritan Anak Miskin

Abah Elang menegaskan, Banten bukan tanah dagang, melainkan tanah perjuangan.
Dan perjuangan hari ini, kata dia, bukan lagi dengan senjata, melainkan dengan mengangkat martabat anak-anak yang lapar dan tak bersekolah.

“Jika pemimpin gagal mendengar jeritan anak miskin, maka sejarah akan menuliskannya bukan sebagai pemimpin, tapi sebagai pengkhianat masa depan.”

Banten lahir dari doa dan perjuangan. Namun kini, yang dibutuhkan bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan pembangunan akal dan hati.

“Kita boleh membangun jembatan, jalan, dan gedung.
Tapi bila anak-anak kita tak mampu membaca nama mereka sendiri,
maka sesungguhnya kita sedang membangun reruntuhan,” tutup Abah Elang dengan nada getir.

Redaksi | Bantenpopuler.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tanah Bukan Barang Dagangan : Nobar Pesta Babi di Serang Jadi Forum Kritik Proyek Papua

13 Mei 2026 - 14:36 WIB

IMG 20260512 203216 201

Seleksi PAW Desa Darmasari, Eko Raih Nilai Tertinggi 312

9 Mei 2026 - 10:57 WIB

IMG 20260509 WA0064

Sampah, Pengangguran, Kemiskinan Masih Layakkah Disebut “Bahagia”?

5 Mei 2026 - 11:28 WIB

IMG 20260501 WA0011

Ahmad Ludin Resmi Daftarkan Diri Bakal Calon Kades PAW Pamubulan

3 Mei 2026 - 04:00 WIB

IMG 20260503 WA0007

Bahagia Belum Sampai ke Dapur Rakyat: Satu Tahun Menunggu Janji Kampanye Ratu Zakiyah

1 Mei 2026 - 08:36 WIB

IMG 20260501 WA0011

Deki Setiawan Ditempatkan di Sel Maximum Security, AMMCB Soroti Dugaan Ketidakwajaran Sanksi

30 April 2026 - 05:46 WIB

IMG 20260430 WA0021

Tambang Ilegal Mengamuk di Gunung Pinang, AMMCB Murka: Ada ‘Main Mata’?

25 April 2026 - 08:26 WIB

Screenshot 20260425 151721 ChatGPT

Deki Setiawan Diisolasi di Sel Maximum Security, Baralak Nusantara: Ini Bukan Pembinaan, Ini Dugaan Pelanggaran HAM

23 April 2026 - 23:58 WIB

Ilustrasi narapidana di dalam sel maximum security dengan latar kolase elemen berita, dokumen hukum, dan headline, disertai cap air “BANTEN POPULER” yang menyoroti kasus Deki Setiawan.
Trending Banten