Oleh: Abah Elang Mangkubumi
Dewan Khos PP PSNU Pagar Nusa
Pernyataan yang disampaikan oleh Muhaimin Iskandar dan Nusron Wahid dalam forum Halal Bihalal Ikatan Alumni PMII (IKA PMII) di Jakarta telah melampaui batas kewajaran dalam etika komunikasi publik.

Apa yang semestinya menjadi ruang silaturahmi justru berubah menjadi panggung penyampaian narasi yang berpotensi menyeret Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ke dalam pusaran kepentingan politik. Ini bukan sekadar soal kritik, tetapi soal cara dan ruang yang dipilih yang pada akhirnya menentukan dampak sosialnya.
Kita tidak menolak kritik. Namun kritik yang disampaikan di ruang publik oleh tokoh politik, dengan diksi yang keras dan bernuansa penilaian terhadap legitimasi serta dinamika internal, bukan lagi sekadar masukan. Ia telah menjadi framing membentuk persepsi, memicu tafsir, dan berpotensi memecah konsolidasi umat.
Nahdlatul Ulama bukan entitas yang bisa diperlakukan sebagai objek retorika. Ia adalah rumah besar umat, tempat bernaungnya nilai, tradisi, dan perjuangan panjang para ulama. Menariknya ke dalam arena opini politik jangka pendek adalah tindakan yang tidak hanya tidak bijak, tetapi juga berisiko merusak keseimbangan sosial yang selama ini dijaga.
Lebih jauh, narasi yang menimbulkan kesan adanya kelompok yang “terasing” di dalam tubuh jam’iyah hanya akan memperlebar jarak dan membuka ruang kesalahpahaman. Padahal kekuatan Nahdlatul Ulama justru terletak pada kemampuannya merawat perbedaan tanpa harus terpecah.
Kami menegaskan, jika ada kritik terhadap PBNU, sampaikan melalui jalur yang tepat, dengan adab, dan dengan niat memperbaiki bukan membangun opini di ruang publik yang rawan ditarik ke berbagai kepentingan.
Publik juga harus cerdas membaca situasi ini. Tidak semua yang tampak sebagai kritik lahir dari kepedulian murni. Dalam politik, persepsi adalah alat, dan narasi adalah kendaraan.
Cukup. Jangan jadikan Nahdlatul Ulama sebagai panggung politik siapa pun.
Karena ketika marwah jam’iyah terganggu, yang terdampak bukan hanya organisasi tetapi ketenangan umat dan keseimbangan bangsa.














