SERANG | Bantenpopuler.com — Dewan Khos PP PSNU Pagar Nusa, Abah Elang Mangkubumi, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para masyayikh, kiai sepuh, dan pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo atas terselenggaranya Musyawarah Akbar Lirboyo yang dinilai sarat hikmah, keberanian moral, serta tanggung jawab sejarah dalam menjaga keutuhan Nahdlatul Ulama (NU).
Musyawarah tersebut dinilai bukan sekadar forum organisatoris, melainkan ikhtiar keulamaan untuk merespons kemelut internal PBNU yang berlarut-larut dan berpotensi menggerus kepercayaan umat terhadap jam’iyyah terbesar di Indonesia itu pk.

Menurut Abah Elang, sejumlah poin keputusan Musyawarah Akbar mencerminkan kebijaksanaan ulama yang menempatkan adab dan kemaslahatan jam’iyyah di atas kepentingan kekuasaan.
Pertama, pemberian waktu islah kepada Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU dinilai sebagai bentuk kelapangan hati ulama, sekaligus ruang introspeksi untuk mengembalikan kepemimpinan pada nilai persaudaraan dan tanggung jawab moral.
Kedua, penegasan tenggat waktu dan mekanisme penyerahan mandat kepada Mustasyar menegaskan bahwa NU adalah organisasi yang beraturan, memiliki disiplin kepemimpinan, dan tidak berjalan tanpa koridor tata kelola.
Ketiga, ancaman pencabutan mandat Muktamar apabila islah diabaikan dinilai sebagai langkah tegas yang menegaskan bahwa jabatan dalam NU adalah amanah, bukan hak absolut yang kebal dari evaluasi.
Keempat, pelibatan PWNU dan PCNU sebagai basis legitimasi Muktamar dipandang sebagai upaya mengembalikan NU kepada khittah jam’iyyah, dengan menempatkan suara jamaah dan wilayah sebagai fondasi utama pengambilan keputusan.
Kelima, penetapan waktu Muktamar pada bulan Syawal sebelum musim haji dianggap mencerminkan kearifan fiqh dan kepekaan ulama terhadap realitas ibadah dan khidmah umat, agar agenda besar organisasi tidak mengganggu kewajiban keagamaan.
Penegasan Sikap Pagar Nusa
Abah Elang menegaskan, Musyawarah Akbar Lirboyo telah membuktikan bahwa ulama tetap menjadi penjaga moral dan penentu arah NU, bukan sekadar penonton konflik internal. Keputusan tersebut menjadi peringatan tegas bahwa NU lebih besar dari siapa pun yang sedang memegang tampuk kepemimpinan.
PSNU Pagar Nusa, kata dia, menyatakan dukungan penuh terhadap setiap ikhtiar yang bertujuan menjaga persatuan jam’iyyah, kewibawaan ulama, ketertiban organisasi, serta keselamatan masa depan NU.
“NU diselamatkan oleh adab, dijaga oleh ulama, dan diwariskan untuk umat—bukan untuk konflik,” tegasnya.
Ia berharap seluruh pihak membuka kelapangan hati untuk mendahulukan islah. Namun, apabila upaya tersebut diabaikan, keputusan para masyayikh harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan demi menjaga marwah jam’iyyah.
Editor | Bantenpopuler.com













