Oleh: Abah Elang Mangkubumi
Pimpinan Majlis Dzikir Bumi Alit Padjadjaran
bantenpopuler.com,- Sebagai bagian dari umat yang menautkan harap kepada para ulama, saya memandang bahwa polemik yang mencuat di tubuh Nahdlatul Ulama bukan sekadar dinamika biasa. Ini adalah ujian kejernihan nurani jam’iyah, sekaligus cermin kedewasaan kita dalam merawat warisan besar para pendiri NU yang dibangun dengan keikhlasan, adab, dan pengorbanan tanpa pamrih.

Perbedaan pandangan adalah sunnatullah dalam kehidupan organisasi. Namun ketika perbedaan itu berubah menjadi polemik terbuka yang saling melemahkan, yang dipertaruhkan bukan lagi soal siapa benar dan siapa salah, melainkan marwah ulama, kehormatan organisasi, dan kepercayaan umat. NU bukan gelanggang pertarungan kepentingan, tetapi rumah besar perjuangan yang harus dijaga keteduhan dan wibawanya.
Dari laku dzikir dan tirakat kebangsaan yang kami amalkan, satu pesan selalu kami jaga: kekuasaan tanpa adab akan melahirkan kegaduhan, dan kritik tanpa akhlak akan melahirkan perpecahan. Kritik adalah gizi bagi organisasi, tetapi harus disampaikan dengan etika keulamaan, dengan data yang jernih, dan niat yang lurus untuk ishlah, bukan untuk menjatuhkan atau membuka aib jam’iyah di hadapan publik.
Polemik di lingkungan PBNU semestinya diselesaikan dengan cara yang bermartabat melalui tabayyun yang jujur, musyawarah yang arif, dan mekanisme organisasi yang sah. Menyeret konflik ke ruang publik dengan nada saling serang hanya akan memperlebar luka, melemahkan barisan, dan membuka ruang bagi kepentingan luar yang tidak selalu sejalan dengan maslahat NU dan umat.
NU hari ini memikul amanah yang jauh lebih besar dari sekadar urusan internal. Di tengah krisis sosial yang kian kompleks—kemiskinan, ketimpangan, keretakan sosial, dan degradasi moral—umat dan bangsa membutuhkan NU yang kokoh, teduh, dan menjadi penuntun nurani. Bukan NU yang larut dalam konflik berkepanjangan.
Sebagai anak bangsa yang mencintai ulama dan jam’iyah ini, saya menyeru dengan penuh hormat kepada seluruh elemen NU, baik struktural maupun kultural: letakkan persatuan di atas segala kepentingan, kembalikan khidmah sebagai orientasi utama, dan jadikan maslahat umat sebagai tujuan tertinggi. Jangan biarkan NU yang agung ini letih oleh pertarungan ego dan kepentingan sesaat.
Polemik ini seharusnya menjadi jalan muhasabah bersama: apakah kita masih berjalan di atas khittah perjuangan, atau mulai tergelincir dalam pusaran ambisi. Sejarah akan mencatat bukan siapa yang paling lantang, tetapi siapa yang paling tulus menjaga kehormatan jam’iyah dan persatuan umat. (**/)





















