Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Banten

Deki Setiawan Diisolasi di Sel Maximum Security, Baralak Nusantara: Ini Bukan Pembinaan, Ini Dugaan Pelanggaran HAM

badge-check

Visual ilustrasi bergaya editorial menampilkan dugaan isolasi berkepanjangan WBP Deki Setiawan di Lapas Cilegon, lengkap dengan elemen berita dan cap air BANTEN POPULER sebagai identitas media.Perbesar

Visual ilustrasi bergaya editorial menampilkan dugaan isolasi berkepanjangan WBP Deki Setiawan di Lapas Cilegon, lengkap dengan elemen berita dan cap air BANTEN POPULER sebagai identitas media.

Cilegon, — Praktik pemasyarakatan kembali disorot tajam. Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) bernama Deki Setiawan dilaporkan mengalami isolasi berkepanjangan di sel Blok Maximum Security Lapas Kelas IIA Cilegon sejak akhir 2025 hingga April 2026. Kondisi ini memicu kecaman keras dari kalangan aktivis yang menilai adanya dugaan pelanggaran hak asasi manusia.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, Deki sebelumnya menjalani masa tahanan di Lapas Kelas IA Tangerang. Ia kemudian dipindahkan ke Cilegon usai diduga terlibat keributan dengan petugas.

“Pemindahan dilakukan dengan alasan melakukan pemukulan terhadap petugas saat terjadi insiden di dalam lapas,” ungkap sumber terpercaya kepada awak media, Jumat (23/4/2026).

Insiden tersebut diduga bermula saat apel rutin berlangsung. Deki kedapatan menggunakan telepon genggam untuk mendengarkan musik—barang yang sejatinya dilarang berada di dalam lapas.

“Saat apel, petugas memergoki Deki memegang HP. Sempat terjadi teguran, bahkan ada pernyataan ‘boleh saja punya HP, tapi harus paham’. Dari situ situasi memanas hingga terjadi cekcok,” ujar sumber.

Namun, yang menjadi sorotan bukan semata pelanggaran disiplin, melainkan konsekuensi yang dinilai berlebihan. Pasca kejadian, Deki dipindahkan ke Lapas Kelas IIA Cilegon dan langsung ditempatkan di sel Maximum Security—ruang isolasi ketat yang diperuntukkan bagi narapidana berisiko tinggi—dan hingga kini belum keluar dari blok tersebut.

Lebih jauh, Deki juga dijatuhi sanksi berat berupa “Register F”, yang secara efektif menghapus hak remisi dan memaksanya menjalani penuh vonis 11 tahun penjara tanpa keringanan.

Kondisi ini memantik reaksi keras dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Barisan Rakyat Lawan Korupsi (Baralak) Nusantara. Ketua Bidang Investigasi dan Advokasi, Zeffry, menyebut apa yang dialami Deki berpotensi melanggar prinsip dasar pemasyarakatan.

“Ini bukan lagi pembinaan, tapi sudah mengarah pada bentuk penghukuman yang menggerus martabat manusia. Isolasi berbulan-bulan tanpa akses bertemu keluarga adalah persoalan serius,” tegas Zeffry.

Ia menekankan bahwa penegakan aturan di dalam lapas memang penting, termasuk larangan penggunaan ponsel. Namun, menurutnya, sanksi harus tetap proporsional, transparan, dan memiliki dasar hukum yang jelas.

“Kalau sanksi dijalankan tanpa evaluasi dan tanpa kontrol, ini berbahaya. Lapas jangan sampai berubah menjadi ruang gelap tanpa akuntabilitas,” ujarnya.

Baralak Nusantara memastikan akan membawa kasus ini ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk dilakukan investigasi menyeluruh. Selain itu, mereka juga mendesak Inspektorat Jenderal Pemasyarakatan (Irjen PAS) segera turun tangan melakukan audit terhadap kinerja petugas di Lapas Kelas IA Tangerang dan Lapas Kelas IIA Cilegon.

“Kami tidak akan diam. Ini akan kami bawa ke tingkat kementerian. Harus ada evaluasi total,” tandas Zeffry.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Lapas Kelas IIA Cilegon maupun Lapas Kelas IA Tangerang belum memberikan keterangan resmi. Kasus ini pun menjadi alarm keras bagi sistem pemasyarakatan, bahwa penegakan disiplin tidak boleh berjalan tanpa batas, apalagi sampai mengorbankan hak dasar warga binaan.

Editor: Banten Populer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Abah Elang Mangkubumi Sentil DPR soal Suket Gibran: Jangan Biarkan Bangsa Ini Diajari Berbohong!

31 Okt 2026 - 13:29 WIB

Abah Elang Mangkubumi Sentil DPR soal Suket Gibran: Jangan Biarkan Bangsa Ini Diajari Berbohong!

Ponpes Al Marjan Mulabaru Borong Enam Penghargaan di MOMB 2026 Tingkat Provinsi Banten

31 Okt 2026 - 12:52 WIB

Ponpes Al Marjan Mulabaru Borong Enam Penghargaan di MOMB 2026 Tingkat Provinsi Banten

Aktivitas Tambang Berhenti, Direktur PT HMD Hamdan Tegaskan Komitmen Patuhi Aturan Perizinan

31 Okt 2026 - 08:20 WIB

Aktivitas Tambang Berhenti, Direktur PT HMD Hamdan Tegaskan Komitmen Patuhi Aturan Perizinan

Aliansi AMMCB Ancam Kepung Kantor PDAM Lebak: “Manajemen Baru Gagal Total, Tak Pernah Belajar dari Kesalahan!

30 Okt 2026 - 22:22 WIB

Aliansi AMMCB Ancam Kepung Kantor PDAM Lebak: “Manajemen Baru Gagal Total, Tak Pernah Belajar dari Kesalahan!

Bakti Pemuda Daerah 2026 Resmi Dibuka, 70 Pemuda Siap Mengabdi di Tiga Desa Cipanas

29 Okt 2026 - 11:39 WIB

Bakti Pemuda Daerah 2026 Resmi Dibuka, 70 Pemuda Siap Mengabdi di Tiga Desa Cipanas

*Izasah di tahan perusahaan, FKMS desak Polda Banten usut tuntas dugaan pelanggaran hak pekerja*

28 Okt 2026 - 19:36 WIB

*Izasah di tahan perusahaan, FKMS desak Polda Banten usut tuntas dugaan  pelanggaran hak pekerja*

Dugaan Manipulasi Data Siswa PKBM di Lebak Disorot, Kejaksaan Diminta Telusuri Validitas Dapodik dan Penyaluran Anggaran

28 Okt 2026 - 08:46 WIB

Dugaan Manipulasi Data Siswa PKBM di Lebak Disorot, Kejaksaan Diminta Telusuri Validitas Dapodik dan Penyaluran Anggaran

SPBU Jaura Jalan Siliwangi Tak Bisa Layani Konsumen, Aktivis Desak Pengawasan dan Evaluasi

27 Okt 2026 - 19:24 WIB

SPBU Jaura Jalan Siliwangi Tak Bisa Layani Konsumen, Aktivis Desak Pengawasan dan Evaluasi
Trending Lebak