Menu

Mode Gelap
Aksi GAMPAR Mengguncang Lebak, Dugaan Korupsi UPK-BUMDesma Diminta Dibongkar Tanpa Tebang Pilih Diduga Ada “Pemenang Langganan”, Baralak DPW Banten Minta Tender Proyek Dindik Banten Diaudit GAMPAR Kepung Inspektorat dan Kejari Lebak Besok, Soroti Dugaan Tebang Pilih Penanganan Kasus UPK-BUMDesma 5 Tahun Holding UMi: Lebih Mudah, Dekat, dan Berdampak untuk Nasabah PNM Mekaar GAMPAR “Gedor” Kejari Lebak, Dugaan Skandal UPK-BUMDesma Kembali Menghangat Aktivis Desak Polda Banten dan Gubernur Banten Bertindak Tegas, Tambang Galian C di Kopo Dinilai Abaikan Keselamatan Pengguna Jalan

berita

Komnas Disabilitas Tegas: Mereka Melihat Manusia, Bukan Hantu

badge-check


					Dua perempuan tuli, RU dan SF, menjadi saksi peristiwa yang menguji kepekaan publik terhadap kebenaran dan keadilan bagi penyandang disabilitas. (Foto: Bantenpopuler.com) Perbesar

Dua perempuan tuli, RU dan SF, menjadi saksi peristiwa yang menguji kepekaan publik terhadap kebenaran dan keadilan bagi penyandang disabilitas. (Foto: Bantenpopuler.com)

LEBAK | Bantenpopuler.com — Malam turun pelan di kompleks perkantoran Kabupaten Lebak. Dua perempuan muda penyandang disabilitas tuli, berinisial RU dan SF, melangkah di sekitar kantor Bapelitbangda. Tak pernah mereka sangka, langkah biasa malam itu akan menyeret keduanya ke pusaran peristiwa yang kini mengguncang ruang publik.

Dengan bahasa isyarat, RU dan SF mencoba menceritakan apa yang mereka lihat: dua laki-laki dan satu perempuan di dalam ruangan, dalam posisi yang mereka pahami sebagai tindakan tidak pantas. Namun ketika salah satu laki-laki di ruangan itu menyadari keberadaan mereka, tirai segera ditarik, dan bentakan terdengar keras. RU dan SF pun berlari ketakutan menjauh dari lokasi.

design4223

Sayangnya, keberanian dua perempuan tuli ini untuk menyampaikan kesaksian justru dibalas dengan keraguan.
Sebagian orang di sekitar mereka menuduh RU dan SF “salah lihat”, bahkan ada yang mengejek dengan sebutan “melihat hantu”.

Untitledac 1

Kesaksian yang Diremehkan

RU dan SF mengalami dua bentuk kehilangan suara: pertama, karena keterbatasan pendengaran; kedua, karena ketidakpercayaan publik terhadap kesaksian mereka.

Rachmita Harahap, Komisioner Komnas Disabilitas RI sekaligus dosen Fakultas Desain dan Seni Kreatif Universitas Mercu Buana, menegaskan bahwa kesaksian RU dan SF tidak boleh diremehkan.

“Yang mereka lihat itu manusia, bukan hantu,” ujar Rachmita dalam keterangannya di Jakarta.
“Saya sangat menyayangkan jika kesaksian mereka dianggap bodoh. Saya justru yakin dengan keterangan RU dan SF,” tambahnya.

Rachmita menegaskan, hak-hak penyandang disabilitas sebagai saksi dilindungi oleh hukum, baik berdasarkan sistem hukum nasional maupun standar hukum internasional.

“Di mata hukum, kesaksian penyandang disabilitas memiliki bobot yang sama. Mereka berhak didengar dan dipercaya, selama proses komunikasinya difasilitasi dengan benar,” ujarnya menegaskan.

Ibu yang Tak Menyerah

Di balik semua stigma dan tekanan sosial, berdiri seorang ibu tangguh — ibu dari RU — yang tidak pernah berhenti memperjuangkan kebenaran.

“Anak saya tahu mana manusia, mana bukan,” katanya lirih sambil menahan air mata.
“Dia bukan sedang melihat hantu. Dia melihat sesuatu yang nyata.”

Ia mendatangi berbagai pihak untuk menuntut agar kesaksian anaknya diperlakukan dengan serius. Baginya, ini bukan sekadar soal keadilan pribadi, tetapi juga pengakuan bahwa suara kaum disabilitas layak didengar di ruang publik.

Hak yang Tak Boleh Dibisukan

Kasus ini menyibak fakta bahwa sistem hukum dan birokrasi di daerah belum sepenuhnya inklusif.
Tanpa penerjemah bahasa isyarat yang kompeten dan tanpa ruang yang aman bagi saksi disabilitas, kebenaran bisa terkubur hanya karena perbedaan cara berkomunikasi.

Komnas Disabilitas menegaskan bahwa negara memiliki kewajiban konstitusional untuk memastikan proses pemeriksaan saksi disabilitas dilakukan secara inklusif dan manusiawi, dengan dukungan pendamping, penerjemah, serta aparat yang memahami empati.

Keadilan yang Masih Diperjuangkan

Hingga kini, dugaan perbuatan tak pantas yang tanpa sengaja disaksikan RU dan SF di salah satu ruangan OPD Kabupaten Lebak seperti hilang tanpa jejak.
Publik justru lebih banyak disuguhi kabar viral soal dugaan intimidasi terhadap salah satu pihak (IH) yang disebut-sebut oleh RU dan SF sebagai orang yang menarik tirai dan mengusir mereka malam itu.

Namun, di luar tembok institusi itu, perjuangan lain tengah berlangsung — perjuangan agar kesaksian dua perempuan tuli ini tidak dibungkam oleh stigma dan ketidakadilan sosial.

Seperti dikatakan Rachmita Harahap di akhir keterangannya:

“Mereka tidak butuh belas kasihan. Mereka hanya ingin dipercaya. Dan saya meyakini apa yang mereka lihat dan saksikan.”

Gambar Diedit

Analisis Redaksi Bantenpopuler.com

Kisah RU dan SF bukan sekadar perkara kesalahpahaman. Ini adalah cermin betapa masih jauhnya akses kesetaraan hukum bagi penyandang disabilitas di Indonesia.
Ketika publik lebih memilih menertawakan daripada mendengarkan, keadilan pun kehilangan arah.

Editor | Bantenpopuler.com
Sumber: Komnas Disabilitas RI | Dosen FDSK @univ_mercubuana & (Pendampingan Rachmita Harahap), Sehira Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

5 Tahun Holding UMi: Lebih Mudah, Dekat, dan Berdampak untuk Nasabah PNM Mekaar

25 Juni 2026 - 13:31 WIB

IMG 20260625 WA00811

Aktivis Baralak Nusantara Desak Dugaan Pencatutan Nama Media oleh Oknum Kepsek di Lebak Diusut Tuntas

1 Juni 2026 - 15:26 WIB

Screenshot 20260601 222447 Gallery

Truk Pasir Diduga Langgar Jam Operasional, Aktivitas PT MQS dan PT Permata Alam Dikeluhkan Warga Sajira

25 Mei 2026 - 12:50 WIB

IMG 20260525 WA0037

Dugaan Larangan Ujian dan Pemisahan Siswa di SD IT Insan Karima Lebak Tuai Sorotan, Dinilai Berpotensi Tekan Psikologis Anak

24 Mei 2026 - 17:12 WIB

IMG 20260524 WA0030

Disambut Jaksa Agung, Adhyaksa FC Banten Targetkan 5 Besar Liga 1

20 Mei 2026 - 10:16 WIB

IMG 20260520 WA0098

Nasabah PNM Mekaar Tunjukkan Perempuan Berdaya Mampu Menggerakkan Ekonomi Keluarga

16 Mei 2026 - 13:07 WIB

IMG 20260516 WA0136

Adhyaksa FC Pilih Bertahan di Banten, Eko Setyawan: “Ini Klub Milik Wong Banten”

15 Mei 2026 - 02:40 WIB

IMG 20260515 WA0013

Tanah Bukan Barang Dagangan : Nobar Pesta Babi di Serang Jadi Forum Kritik Proyek Papua

13 Mei 2026 - 14:36 WIB

IMG 20260512 203216 201
Trending Advetorial