Menu

Mode Gelap
Diduga Bertindak Semena-mena, PLN ULP Rangkasbitung Disorot: Pemutusan Listrik Berbekal Surat Tanpa Tanda Tangan Manajer Transformasi UPK Menjadi BUMDesma: Antara Amanat Regulasi dan Dugaan Kejahatan Terstruktur atas Aset PNPM di Kabupaten Lebak Hutan Kabel di Lebak, Bisnis Internet Menjamur, Negara Kehilangan Wibawa? GAIB-212 Siap Kepung PLN UP3 Banten Selatan, Bongkar Dugaan Pungli dan Carut-Marut Penggunaan Aset Negara Ketua GAIB-212 Lebak Buka Ruang Koordinasi dengan OPD, Namun Tetap Kawal Kepentingan Rakyat Perpisahan Kelas IX SMPN 3 Rangkasbitung Tahun Ajaran 2025-2026 Berlangsung Khidmat dan Penuh Haru

berita

Rakyat Disebut, Tapi Ditinggalkan: Demokrasi di Persimpangan Kekuasaan

badge-check


					Abah Elang Mangkubumi berpose di depan bendera Merah Putih, merepresentasikan suara moral publik yang menyerukan agar kedaulatan rakyat tetap menjadi dasar utama dalam sistem demokrasi Indonesia.
(Foto: Dok. Abah Elang Mangkubumi/Bantenpopuler.com) Perbesar

Abah Elang Mangkubumi berpose di depan bendera Merah Putih, merepresentasikan suara moral publik yang menyerukan agar kedaulatan rakyat tetap menjadi dasar utama dalam sistem demokrasi Indonesia. (Foto: Dok. Abah Elang Mangkubumi/Bantenpopuler.com)

Tokoh nasional Abah Elang Mangkubumi berpose di depan bendera Merah Putih sebagai simbol seruan moral menjaga kedaulatan rakyat dan demokrasi Indonesia.SERANG | Bantenpopuler.com — Di tengah tekanan hidup yang kian berat—harga kebutuhan pokok yang terus menanjak, lapangan kerja yang makin sempit, serta rasa keadilan hukum yang kerap terasa jauh—wacana pengalihan pemilihan eksekutif kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengemuka dan menuai sorotan publik. Rakyat kembali disebut dalam pidato dan slogan, namun pada inti kedaulatan—hak memilih pemimpin—posisinya justru terancam dipinggirkan.

Muncul gagasan agar pemilihan pemimpin eksekutif tidak lagi dilakukan secara langsung oleh rakyat, melainkan melalui mekanisme DPR. Wacana tersebut dibungkus dengan alasan stabilitas dan efisiensi.

design4223

Seluruh rakyat Indonesia sebagai pemilik kedaulatan dan pemegang mandat tertinggi dalam sistem demokrasi.

Wacana ini mengemuka di tengah kondisi nasional yang sedang menghadapi tekanan ekonomi dan tantangan sosial, serta berlangsung dalam ruang publik Indonesia.

Pemilihan langsung bukan sekadar prosedur administratif. Ia adalah pengakuan martabat rakyat yang lahir dari luka sejarah panjang dan mahal. Mengalihkannya ke ruang tertutup berisiko mengulang praktik masa silam—dengan bahasa yang lebih halus, namun niat yang sama: mengerdilkan hak publik dan mengurangi ruang koreksi rakyat terhadap kekuasaan.

Legitimasi kekuasaan berpotensi melemah. Dalam situasi krisis, negara membutuhkan mandat yang kuat—dan mandat itu hanya lahir dari kepercayaan rakyat, bukan dari lobi politik dan kalkulasi elit.

Sejarah dunia memberi pelajaran tegas. Di Venezuela, ketika pemilu kehilangan makna dan kepercayaan, ekonomi runtuh dan rakyat pergi. Di Mesir pasca Arab Spring, stabilitas yang dipaksakan membuat demokrasi menyempit—tenang di permukaan, rapuh di dasar. Di Myanmar, pembatalan suara rakyat menyeret negara ke konflik berkepanjangan. Di Sri Lanka, legitimasi yang menguap menumbangkan kekuasaan bukan oleh senjata, melainkan oleh kelelahan rakyat.

Tidak ada satu pun negara itu runtuh karena rakyat terlalu bebas. Mereka jatuh karena kekuasaan terlalu takut pada suara warganya sendiri.

Ini bukan ancaman gaduh, melainkan peringatan dingin: kekuasaan yang menjauh dari rakyat akan kehilangan pijakan. Rakyat mungkin bersabar, tetapi tidak lupa. Ketika suara yang sah terus dikecilkan, diam bukan tanda tunduk—melainkan jeda panjang sebelum rakyat menentukan arah baru bagi negeri ini.

Editor | Abah Elang Mangkubumi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Aktivis Baralak Nusantara Desak Dugaan Pencatutan Nama Media oleh Oknum Kepsek di Lebak Diusut Tuntas

1 Juni 2026 - 15:26 WIB

Screenshot 20260601 222447 Gallery

Truk Pasir Diduga Langgar Jam Operasional, Aktivitas PT MQS dan PT Permata Alam Dikeluhkan Warga Sajira

25 Mei 2026 - 12:50 WIB

IMG 20260525 WA0037

Dugaan Larangan Ujian dan Pemisahan Siswa di SD IT Insan Karima Lebak Tuai Sorotan, Dinilai Berpotensi Tekan Psikologis Anak

24 Mei 2026 - 17:12 WIB

IMG 20260524 WA0030

Disambut Jaksa Agung, Adhyaksa FC Banten Targetkan 5 Besar Liga 1

20 Mei 2026 - 10:16 WIB

IMG 20260520 WA0098

DPW Badak Banten Siap Kawal Program Bang Andra Pemprov Banten

18 Mei 2026 - 06:34 WIB

Screenshot 20260518 133330 ChatGPT

Nasabah PNM Mekaar Tunjukkan Perempuan Berdaya Mampu Menggerakkan Ekonomi Keluarga

16 Mei 2026 - 13:07 WIB

IMG 20260516 WA0136

Belanja Pegawai Dominasi RAPBD 2026, Kemiskinan di Kabupaten Serang Jadi Sorotan

15 Mei 2026 - 11:36 WIB

Screenshot 20260515 182934 ChatGPT

Adhyaksa FC Pilih Bertahan di Banten, Eko Setyawan: “Ini Klub Milik Wong Banten”

15 Mei 2026 - 02:40 WIB

IMG 20260515 WA0013
Trending Banten