“Anugerah Tak Boleh Menjadi Dalih Kerusakan”
Lebak, Banten – Sesepuh budaya dan pemerhati lingkungan nasional, Abah Elang Mangkubumi, menyampaikan pernyataan keras menanggapi pidato Presiden Republik Indonesia, H. Prabowo Subianto, yang menyebut bahwa sawit adalah anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia. Menurut Abah, penyebutan sawit sebagai anugerah tidak boleh menjadi pembenaran atas kerusakan ekologis yang telah terjadi di berbagai daerah, terutama di Sumatra yang baru-baru ini dilanda banjir besar.

Abah menegaskan bahwa narasi ekonomi tidak boleh menutup mata terhadap fakta kerusakan lingkungan yang terus terjadi akibat tata kelola sawit yang dinilai lemah dan sarat kepentingan.
“Sawit boleh disebut anugerah, tetapi banjir Sumatra adalah peringatan keras dari langit bahwa ada yang tidak beres dalam pengurusannya,” tegas Abah Elang Mangkubumi melalui keterangan tertulis, Jumat.
Abah menyebut bahwa bencana banjir yang merendam sejumlah wilayah di Sumatra bukan semata akibat curah hujan ekstrem, melainkan dampak dari penggundulan hutan dan ekspansi sawit yang tidak terkendali selama puluhan tahun.
“Ketika hutan diganti lautan sawit, ketika bukit diratakan, ketika sungai disempitkan, maka banjir bukan lagi bencana alam melainkan bencana kebijakan,” ujarnya.
Abah menilai bahwa rakyat terus menjadi korban kehilangan rumah, mata pencaharian, bahkan nyawa, sementara segelintir pihak mendapatkan keuntungan ekonomi dari industri sawit.
Dalam pernyataannya, Abah menegaskan bahwa sumber persoalan bukan pada tanaman sawit, melainkan keserakahan dan lemahnya tata kelola pemerintah serta korporasi.
Ia menyoroti beberapa penyebab utama kerusakan lingkungan:
– Izin tumpang tindih,
– Pembukaan lahan tanpa kontrol,
– Masuknya kebun sawit ke kawasan hutan lindung,
– Pembiaran oleh pemerintah pusat maupun daerah.
“Anugerah Tuhan tidak akan pernah datang dengan banjir setinggi dada di Sumatra,” tegasnya.
Dengan tetap menjaga etika kepada kepala negara, Abah meminta pemerintah melakukan langkah korektif nyata.“Bangsa ini menghormati Bapak Presiden. Namun hormat bukan berarti bisu. Ketika alam hancur, kami harus bersuara,” ucap Abah.
Ia mendesak agar pemerintah:
1. Membersihkan mafia perizinan sawit,
2. Membongkar kebun yang memasuki kawasan hutan,
3. Menghentikan perluasan sawit di provinsi yang sudah jenuh ekologis,
4. Menjadikan banjir Sumatra sebagai darurat reformasi lingkungan.
“Negara Tidak Boleh Tunduk pada Korporasi”
Abah juga mengingatkan bahwa industri sawit telah berkembang begitu besar hingga terlihat seolah negara tunduk pada kepentingan korporasi.
“Negara adalah ibu dari rakyat, bukan pelayan bagi konglomerasi,” katanya.
Menurutnya, jika tata kelola sawit tidak segera direformasi, maka bencana ekologis serupa akan menjadi ancaman bagi seluruh wilayah Indonesia.
Di akhir pernyataannya, Abah menyerukan kesadaran bersama bahwa keselamatan alam harus menjadi prioritas utama.
“Anugerah Tuhan adalah hutan, sungai, tanah, dan kehidupan. Sawit hanyalah salah satu tanaman. Jangan sampai kita memuja satu anugerah dengan menghancurkan anugerah lainnya,” tutup Abah.
> “Banjir Sumatra adalah peringatan. Dan peringatan dari alam tidak boleh diabaikan.”





















