Bantenpopuler.com – Hari Anti Korupsi Sedunia setiap tahun diperingati pada tanggal 9 Desember. Namun, di tengah rangkaian seremoni dan kampanye simbolik, suara keras muncul dari kalangan aktivis mahasiswa Lebak yang menilai bahwa pemberantasan korupsi di negeri ini berjalan di tempat dan semakin jauh dari rasa keadilan.
Sapnudi, aktivis muda Lebak, menyampaikan kritik tajam terhadap situasi pemberantasan korupsi yang dinilai semakin melemah, terutama pada aspek penegakan hukum dan transparansi kebijakan publik.

“Anti korupsi tanpa aksi hanyalah omong kosong. Setiap tahun kita melihat poster, spanduk, dan seminar, tapi korupsi tetap subur dan rakyat tetap menderita. Jangan biarkan perang melawan korupsi hanya berhenti pada panggung pencitraan,” tegas Sapnudi.
Ia menyebut bahwa dampak korupsi sangat terasa di tingkat daerah, termasuk di Lebak, mulai dari infrastruktur yang terbengkalai, pelayanan publik yang tidak maksimal, hingga maraknya praktik transaksional dalam birokrasi dan dunia politik lokal.
“Jika korupsi terus dipelihara, pembangunan akan mandek, hak rakyat dirampas, dan masa depan generasi muda hancur. Hukum hari ini terlalu sering tajam ke bawah, tapi tumpul ke atas. Ini pengkhianatan terhadap keadilan dan demokrasi,” lanjutnya.
Sapnudi menegaskan bahwa gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil harus kembali bangkit sebagai kekuatan moral untuk menekan pemerintah dalam pemberantasan korupsi. Ia menyatakan bahwa aksi nyata akan dilakukan sebagai bentuk penegasan sikap publik.
“Diam adalah pengkhianatan. Maka dari itu, kami mengajak seluruh mahasiswa, pemuda, dan elemen masyarakat untuk turun ke jalan dan bersatu menyuarakan perlawanan. Dalam waktu dekat, kami akan menggelar aksi massa di Pendopo Lebak sebagai bentuk protes atas lemahnya penegakan hukum terhadap kasus-kasus korupsi,” ujarnya.
Menurutnya, aksi tersebut bukan sekadar ritual tahunan, melainkan bentuk desakan konkret agar penegakan hukum tidak tebang pilih dan pemerintah daerah lebih transparan serta akuntabel dalam setiap kebijakan publik.
“Jika memang korupsi adalah musuh bersama, maka lawan dengan keberanian, bukan dengan slogan. Dengan integritas, bukan seremoni. Dengan gerakan massa, bukan janji manis pejabat,” tutup Sapnudi.
Gerakan mahasiswa menegaskan bahwa perlawanan ini akan terus berlanjut hingga praktik koruptif dibersihkan dari akar-akarnya. Hari Anti Korupsi Sedunia dijadikan momentum untuk menghidupkan kembali suara publik dan menegaskan bahwa keadilan tidak boleh dikompromikan.
Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat! Lawan Korupsi Sampai Tumbang!





















