Oleh: Abah Elang Mangkubumi
SERANG, Bantenpopuler.com – Dalam setiap zaman, selalu ada pemimpin yang meninggalkan jejak tak hanya berupa pembangunan fisik, tetapi juga keteladanan moral dan nilai pengabdian. Bagi Kabupaten Serang, nama itu adalah Ratu Tatu Chasanah.

Saya, Abah Kh. Elang Mangkubumi, menyaksikan dengan mata hati bagaimana beliau menuntun Serang bukan dengan kekuasaan, melainkan dengan kebijaksanaan dan ketulusan. Di tengah derasnya arus kepentingan politik dan perubahan zaman, beliau berdiri tegak lembut dalam tutur, tegas dalam sikap, dan konsisten dalam setiap langkah pengabdian.
Ratu Tatu bukan sekadar pemimpin perempuan; beliau adalah simbol martabat dan kekuatan hati. Ia bekerja bukan demi dikenang, melainkan karena cinta yang mendalam kepada tanah dan rakyatnya. Di bawah kepemimpinannya, Kabupaten Serang tumbuh tidak hanya dalam pembangunan infrastruktur, tetapi juga dalam martabat, kemandirian, dan kesejahteraan sosial.
Sebagai bentuk penghargaan atas karya dan dedikasinya, Presiden Republik Indonesia menganugerahkan Satyalancana Wira Karya kepada beliau sebuah tanda kehormatan tinggi yang diberikan hanya kepada sosok yang benar-benar memberi perubahan bagi rakyat kecil. Melalui kebijakan yang berpihak pada petani, Ratu Tatu menghidupkan kembali semangat kemandirian pangan dan ekonomi desa.
Tak berhenti di situ, keberhasilannya membina Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) menjadikan Kabupaten Serang meraih predikat Top Pembina BUMD Nasional selama tujuh tahun berturut-turut. Sebuah pencapaian langka yang menegaskan, bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang banyaknya pidato, tetapi tentang panjangnya hasil kerja yang nyata.
Kelembutan perempuan berpadu dengan keberanian seorang negarawan juga tampak ketika beliau dinobatkan sebagai Kepala Daerah Perempuan Inspiratif 2022, dan kembali mencatat sejarah dengan Anugerah PWI 2024 Bidang Kebudayaan atas perannya melestarikan Jurus Silat Kaserangan, warisan luhur Banten yang menjadi simbol harga diri dan identitas masyarakatnya.
Kini, ketika masa jabatannya usai, jejak kepemimpinannya justru semakin terasa hidup. Dari setiap jalan yang diperbaiki, sawah yang kembali hijau, perempuan yang bangkit, hingga generasi muda yang berani bermimpi di sana terpatri nama Ratu Tatu Chasanah.
Kepemimpinan beliau bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin bagi masa depan.
Ketegasannya menumbuhkan wibawa.
Ketulusannya menumbuhkan kepercayaan.
Dan dari tangannya, kita belajar bahwa kekuasaan dapat menjadi pengabdian yang suci.
Maka bagi kami, rakyat Serang, Ratu Tatu Chasanah tak pernah benar-benar pergi.
Beliau hanya berpindah tempat dari kursi pemerintahan menuju ruang hati rakyat yang selalu merindukan keteduhan kepemimpinannya.





















