Menu

Mode Gelap
Dugaan Pungli Dokumen Lingkungan, BARALAK Layangkan Somasi ke Dinas LHK Banten Dana BOS Mengalir ke SMK Swasta di Tangerang Raya, BARALAK Soroti Ketertiban Izin dan Lemahnya Verifikasi Data BKPSDM Lebak Tegaskan Surat Mutasi ASN yang Beredar adalah Hoaks Peringati HPN 2026, DPW MOI Banten Gelar Bakti Sosial dan Edukasi Sejarah di Situs Salakanagara BPI KPNPA RI Banten Soroti Lambannya Dindik Banten Awasi Sekolah Swasta Bermasalah dan Penyaluran Dana BOS Salah Tulis Jabatan “Sekertaris”, Aktivis Nilai Dindikbud Banten Lalai dan Tak Profesional

Opini

Stoikisme, Jalan Sunyi Menjaga Keseimbangan Batin

badge-check


					Stoikisme, Jalan Sunyi Menjaga Keseimbangan Batin Perbesar

Opini, Banten Populer – Mengenal buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring menjadi pengalaman intelektual yang berharga. Buku yang memperkenalkan kembali mazhab filsafat kuno Stoikisme ini awalnya saya temukan atas rekomendasi seorang sahabat. Ketertarikan itu semakin kuat karena sejak lama saya menaruh minat pada bacaan filsafat dan refleksi diri.

Seiring bertambahnya usia, terutama memasuki dekade keempat kehidupan, saya merasakan kebutuhan untuk memahami cara berpikir yang lebih menenangkan dan realistis. Membaca buku ini membuka kesadaran baru.

Filsafat Stoikisme ternyata sangat relevan dengan tantangan kesehatan mental dan kestabilan emosi yang sering dialami individu dewasa.

Panduan Rasional Menata Pikiran

Stoikisme mengajarkan bagaimana manusia dapat menghadapi hidup secara rasional dan tenang. Inti ajarannya menekankan pentingnya pengendalian diri, introspeksi, serta kemampuan membedakan mana hal-hal yang berada dalam kendali kita dan mana yang berada di luar kendali.

 

Pendekatan ini memberi ruang bagi pikiran yang jernih dan hati yang lapang. Stoikisme tidak meniadakan rasa atau empati, namun membantu menahan diri dari keinginan yang berlebihan yang kerap memicu kecemasan, kekecewaan, bahkan depresi. Dalam praktiknya, ajaran ini menghadirkan keseimbangan antara logika dan rasa, antara penerimaan realitas dan keberanian mengambil tindakan.

Warisan Pemikiran yang Panjang

Secara historis, Stoikisme berakar dari Yunani kuno. Istilah “stoik” berasal dari Stoa Poikile serambi beratap tiang tempat filsuf Zeno dari Citium menyampaikan pengajaran di Athena sekitar tahun 301 SM. Cara Zeno mengajar yang sederhana namun mendalam menjadikan Stoikisme mudah diterima publik, bahkan hingga kini.

Perkembangan Stoikisme terbagi dalam tiga fase utama. Stoa Awal dipelopori Zeno, Chrysippus, dan Cleanthes; Stoa Perantara diperkaya oleh Panaetius dan Posidonius; sedangkan Stoa Akhir atau Stoikisme Romawi dipopulerkan oleh pemikir besar seperti Seneca, Epictetus, dan kaisar-filsuf Marcus Aurelius. Pemikiran-pemikiran inilah yang kemudian menginspirasi banyak refleksi modern tentang ketenangan batin dan ketahanan mental.

Relevansi di Era Modern

Dalam konteks kehidupan saat ini yang penuh tekanan dan perubahan cepat, Stoikisme kembali menemukan relevansinya. Ajaran untuk fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan, menerima realitas yang tak bisa diubah, serta memelihara empati terhadap sesama menjadi bekal penting untuk menjaga kesehatan mental.

Bagi banyak orang, termasuk saya, Stoikisme bukan sekadar warisan intelektual, melainkan alat praktis untuk menjalani hidup yang penuh dinamika dengan lebih tenang dan terarah. Ia memberi pegangan untuk tidak larut dalam kecemasan sekaligus mengingatkan agar tetap rasional dan manusiawi dalam menghadapi setiap tantangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Wacana Penghapusan Pemilihan Langsung Dinilai Mengingkari Kedaulatan Rakyat

10 Januari 2026 - 06:04 WIB

Demokratisasi Pizza, Bagaimana Pizza Askar Menghapus Sekat Ekonomi di Rangkasbitung

7 Januari 2026 - 07:38 WIB

KEYAKINAN DAN RAMALAN BENCANA (Sebuah Tinjauan Edukatif)

2 Januari 2026 - 12:22 WIB

Pemilu oleh DPR : Kudeta Sunyi atas Kedaulatan Rakyat

2 Januari 2026 - 11:59 WIB

Abah Elang Mangkubumi Tokoh Baitul Muslimin Indonesia (BAMUSI), pemerhati demokrasi dan kedaulatan rakyat Bantenpopuler.com - Wacana pemilu yang dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat patut dibaca dengan kewaspadaan konstitusional. Di balik bahasa efisiensi dan stabilitas, tersimpan risiko serius: penggeseran kedaulatan rakyat dari bilik suara ke ruang-ruang kekuasaan. Perubahan ini bukan sekadar koreksi teknis, melainkan peralihan prinsip yang berpotensi mengosongkan makna demokrasi itu sendiri.

Polemik PBNU dan Ujian Kejernihan Nurani Jam’iyah

3 Desember 2025 - 04:16 WIB

Lebak 197 Tahun Dalam Bayang Jeritan Suara Rakyat

29 November 2025 - 07:56 WIB

Populer Lebak
Verified by MonsterInsights