Menu

Mode Gelap
Plang Penutupan Galian Cadas di Desa Paja Hilang, Diduga Akan Kembali Beroperasi, IMALA Soroti Pengawasan Di Tengah Keterbatasan, Ibu Irma Bangun Kemandirian dan Gerakkan Disabilitas Lewat PNM Mekaar Konsumen Mancanegara Kunjungi Galeri Batik Chanting Lebak, Bukti UMKM Lokal Kian Mendunia Peserta Kecewa, Program “Terima Kasih Muadzin” Dinilai Tak Jelas dan Berpotensi PHP Karang Taruna Kabupaten Serang Perkuat Mental dan Spiritual Pemuda Dari Guru Bantu hingga Kepala Sekolah: Kisah Inspiratif Umsaroh, Pendidik Lebak yang Sukses Bangun UMKM Batik Canting

berita

DPR & KPAI Sepakat: Evaluasi Total Program Makan Bergizi Gratis

badge-check


					Kepala BGN menunjuk tim khusus yang dipimpin Nanik S. Deyang. Menu yang dihadirkan dan diolah di dapur untuk Makan Bergizi Gratis dikelola langsung oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ditunjuk Badan Gizi Nasional (BGN) (Sumber: liputan6.com). Perbesar

Kepala BGN menunjuk tim khusus yang dipimpin Nanik S. Deyang. Menu yang dihadirkan dan diolah di dapur untuk Makan Bergizi Gratis dikelola langsung oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ditunjuk Badan Gizi Nasional (BGN) (Sumber: liputan6.com).

JAKARTA | Bantenpopuler.comRibuan Siswa Keracunan Program Makan Bergizi Gratis, Pemerintah Diminta Evaluasi Menyeluruh Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali jadi sorotan setelah tercatat 5.626 kasus keracunan di 17 provinsi sepanjang Januari–September 2025. Kasus terbaru terjadi di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah.

KPAI mendesak program MBG dihentikan sementara untuk evaluasi. Badan Gizi Nasional (BGN) membentuk tim investigasi, sementara data pemerintah menunjukkan lebih dari 5.000 pelajar terdampak, dengan kasus terbanyak di Jawa Barat.

design4223

Ketua DPR RI Puan Maharani menekankan perlunya evaluasi total, sementara DPR menilai masalah ada pada sistem, bukan hanya pelaksana. Namun, penghentian program MBG sulit dilakukan karena merupakan janji politik presiden.

Tim Investigasi BGN

Badan Gizi Nasional (BGN) telah membentuk tim khusus untuk menginvestigasi dugaan keracunan dalam program MBG. Kepala BGN, Dadan Hindayana, menunjuk wakilnya, Nanik S. Deyang, sebagai ketua tim investigasi.

“Tim akan menelusuri dugaan penyebab keracunan, mulai dari menu makanan, proses memasak, hingga kondisi dapur penyedia. Hasilnya menjadi second opinion sambil menunggu laporan resmi dari BPOM,” ujar Nanik dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta, Senin (22/9/2025).

Menurut Nanik, tim investigasi akan diturunkan pekan ini dengan melibatkan ahli kimia, farmasi, dan kesehatan. Ia menegaskan, keracunan tidak serta-merta disebabkan oleh MBG karena faktor lain seperti alergi, kondisi kesehatan anak, hingga kesalahan teknis distribusi bisa berperan.

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) M Qodari menyebut, lebih dari 5.000 siswa di berbagai daerah mengalami keracunan akibat MBG. Tiga lembaga mencatat angka yang relatif sama:

  • BGN: 46 kasus, 5.080 penderita (per 17 September 2025)
  • Kemenkes: 60 kasus, 5.207 penderita (per 16 September 2025)
  • BPOM: 55 kasus, 5.320 penderita (per 10 September 2025)

Jumlah tersebut selaras dengan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia yang mencatat 5.360 siswa terdampak. Menurut Qodari, puncak kasus terjadi pada Agustus 2025 dengan sebaran terbanyak di Jawa Barat.

Penyebab utama keracunan disebut terkait higienitas makanan, suhu penyajian, pengolahan pangan yang tidak sesuai, hingga kontaminasi silang.

Catatan Kemenkes menunjukkan dari 1.379 Satuan Penyelenggara Program Gizi (SPPG), hanya 312 yang sudah menerapkan SOP keamanan pangan. Bahkan, dari total 8.583 SPPG, baru 34 yang memiliki Sertifikasi Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS).

“Ini membuktikan SOP dan SLHS mutlak dijalankan agar kasus serupa bisa dicegah,” kata Qodari.

BGN mencatat, sejak Januari hingga 22 September 2025 terdapat 4.711 korban keracunan yang dikategorikan Kejadian Luar Biasa (KLB) di seluruh Indonesia. Kasus terbanyak terjadi di Jawa Barat, Sumatera, hingga Sulawesi.

Data terperinci menunjukkan ada 7 kasus di wilayah 1, 27 kasus di wilayah 2, dan 11 kasus di wilayah 3 dengan ribuan korban. Misalnya, kasus di Sukabumi (Lampung) yang menelan 503 korban, hingga kasus Banggai Kepulauan (Sulawesi Tengah) dengan 339 korban.

Ketua DPR RI Puan Maharani menilai evaluasi menyeluruh harus segera dilakukan. “Evaluasi diperlukan agar pelaksanaan di lapangan lebih baik dan anak-anak tidak dirugikan,” katanya di Senayan, Senin (22/9/2025).

Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris menambahkan, masalah MBG lebih pada sistem daripada penyelenggara di lapangan. Namun, keputusan penghentian program tetap ada di tangan presiden.

Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR Edy Wuryanto mengingatkan sulitnya menghentikan MBG karena program ini merupakan janji politik presiden.

Editor | Yogi Prabowo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Plang Penutupan Galian Cadas di Desa Paja Hilang, Diduga Akan Kembali Beroperasi, IMALA Soroti Pengawasan

27 Maret 2026 - 13:46 WIB

IMG 20260325 WA0056 e1774619314453

Di Tengah Keterbatasan, Ibu Irma Bangun Kemandirian dan Gerakkan Disabilitas Lewat PNM Mekaar

25 Maret 2026 - 23:39 WIB

IMG 20260326 WA0007

Konsumen Mancanegara Kunjungi Galeri Batik Chanting Lebak, Bukti UMKM Lokal Kian Mendunia

24 Maret 2026 - 16:42 WIB

Pengusaha asal Malaysia melihat dan memeriksa kain batik bersama pengelola di galeri Batik Chanting Lebak dengan motif berwarna cerah

Peserta Kecewa, Program “Terima Kasih Muadzin” Dinilai Tak Jelas dan Berpotensi PHP

19 Maret 2026 - 20:25 WIB

Screenshot 2026 03 20 03 13 31 55 1c337646f29875672b5a61192b9010f9

Karang Taruna Kabupaten Serang Perkuat Mental dan Spiritual Pemuda

19 Maret 2026 - 11:50 WIB

IMG 20260319 WA0110

Baralak Nusantara Desak Penertiban Parkir Liar di Pusat Kota Rangkasbitung

15 Maret 2026 - 06:48 WIB

20260315 183913
Trending berita