Menu

Mode Gelap
Plang Penutupan Galian Cadas di Desa Paja Hilang, Diduga Akan Kembali Beroperasi, IMALA Soroti Pengawasan Di Tengah Keterbatasan, Ibu Irma Bangun Kemandirian dan Gerakkan Disabilitas Lewat PNM Mekaar Konsumen Mancanegara Kunjungi Galeri Batik Chanting Lebak, Bukti UMKM Lokal Kian Mendunia Peserta Kecewa, Program “Terima Kasih Muadzin” Dinilai Tak Jelas dan Berpotensi PHP Karang Taruna Kabupaten Serang Perkuat Mental dan Spiritual Pemuda Dari Guru Bantu hingga Kepala Sekolah: Kisah Inspiratif Umsaroh, Pendidik Lebak yang Sukses Bangun UMKM Batik Canting

berita

Apa Gunanya Makan Bergizi Jika Anak-Anak Banten Tak Bisa Sekolah?

badge-check


					Tiga tokoh muda Banten berdiskusi santai mengenai arah pembangunan dan isu pendidikan daerah di salah satu ruang pertemuan di Lebak, Banten.
(Foto: Dok. Bantenpopuler.com) Perbesar

Tiga tokoh muda Banten berdiskusi santai mengenai arah pembangunan dan isu pendidikan daerah di salah satu ruang pertemuan di Lebak, Banten. (Foto: Dok. Bantenpopuler.com)

BANTEN | Bantenpopuler.com — “Apa gunanya makan bergizi, jika anak-anak itu tak bisa sekolah?” Pertanyaan menohok itu disampaikan oleh tokoh Banten, Abah Elang Mangkubumi, sebagai bentuk kritik terhadap kondisi pendidikan di Provinsi Banten yang dinilai semakin memprihatinkan.

Banten, tanah yang berdiri di atas doa para ulama dan darah para pejuang, kini dihadapkan pada kenyataan pahit: ribuan anak kehilangan hak dasar mereka untuk bersekolah.

design4223

Data resmi menunjukkan, sebanyak 25.274 anak di Banten tercatat putus sekolah pada jenjang SD dan SMP.
Rinciannya mencakup:

  • 12.778 anak SD dan 12.486 anak SMP.
  • Di Kabupaten Tangerang, 14.633 anak berhenti di tengah jalan pendidikan.
  • Di Lebak, 8.462 anak kehilangan harapan.
  • Di Pandeglang, 5.968 anak menukar cita-cita dengan kerja kasar.
  • Sementara di Kota Serang, jantung pemerintahan provinsi, lebih dari 1.500 anak masih tertinggal dari hak dasarnya.

“Ini bukan sekadar statistik, ini adalah jerit sunyi masa depan,” tegas Abah Elang. “Mereka bukan angka yang bisa dihapus — mereka adalah amanah yang sedang diabaikan.”

Program Makan Bergizi Gratis yang digaungkan pemerintah pusat dinilai indah di atas kertas, namun masih jauh dari harapan di lapangan.

Abah Elang mempertanyakan efektivitas program tersebut yang dinilainya belum menyentuh akar persoalan pendidikan.

“Apa gunanya makan bergizi, jika anak-anak itu tak bisa sekolah?
Apa gunanya susu dan nasi, jika mereka tak punya buku dan guru?”
Abah Elang Mangkubumi

Menurutnya, perut kenyang tak berarti jika pikiran tetap lapar.

“Kebodohan jauh lebih mematikan daripada kelaparan,” tambahnya.

Abah Elang menegaskan bahwa program itu seharusnya menjadi jembatan untuk menarik kembali anak-anak miskin ke ruang belajar, bukan sekadar alat pencitraan politik.

“Banten tidak butuh gimik kesejahteraan, Banten butuh keberpihakan yang nyata — yang menyentuh perut dan akal sekaligus,” ujarnya.

Seruan Tegas Abah Elang Mangkubumi

Dalam pernyataannya, Abah Elang menyampaikan tiga seruan moral dan politik kepada para pemangku kepentingan di Banten:

  1. Untuk Pemerintah Daerah dan DPRD Banten:
    “Hentikan parade proyek. Turunlah ke kampung, dusun, dan pesisir. Lihat wajah anak-anak yang kehilangan haknya karena kebijakan yang tak berpihak.”

  2. Untuk Dinas Pendidikan:
    “Setiap anak yang putus sekolah adalah bukti kegagalan sistem. Jangan hanya menghitung jumlah sekolah baru, tapi hitunglah berapa anak yang berhasil kembali belajar.”

  3. Untuk Masyarakat dan Ulama:
    “Pendidikan bukan tugas pemerintah semata, tetapi amanah umat. Mari kita jaga agar anak-anak Banten tumbuh dalam ilmu, bukan dalam kelaparan dan keputusasaan.”

Penegasan Abah Elang: Pemimpin Jangan Tuli Terhadap Jeritan Anak Miskin

Abah Elang menegaskan, Banten bukan tanah dagang, melainkan tanah perjuangan.
Dan perjuangan hari ini, kata dia, bukan lagi dengan senjata, melainkan dengan mengangkat martabat anak-anak yang lapar dan tak bersekolah.

“Jika pemimpin gagal mendengar jeritan anak miskin, maka sejarah akan menuliskannya bukan sebagai pemimpin, tapi sebagai pengkhianat masa depan.”

Banten lahir dari doa dan perjuangan. Namun kini, yang dibutuhkan bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan pembangunan akal dan hati.

“Kita boleh membangun jembatan, jalan, dan gedung.
Tapi bila anak-anak kita tak mampu membaca nama mereka sendiri,
maka sesungguhnya kita sedang membangun reruntuhan,” tutup Abah Elang dengan nada getir.

Redaksi | Bantenpopuler.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Plang Penutupan Galian Cadas di Desa Paja Hilang, Diduga Akan Kembali Beroperasi, IMALA Soroti Pengawasan

27 Maret 2026 - 13:46 WIB

IMG 20260325 WA0056 e1774619314453

Di Tengah Keterbatasan, Ibu Irma Bangun Kemandirian dan Gerakkan Disabilitas Lewat PNM Mekaar

25 Maret 2026 - 23:39 WIB

IMG 20260326 WA0007

Peserta Kecewa, Program “Terima Kasih Muadzin” Dinilai Tak Jelas dan Berpotensi PHP

19 Maret 2026 - 20:25 WIB

Screenshot 2026 03 20 03 13 31 55 1c337646f29875672b5a61192b9010f9

Karang Taruna Kabupaten Serang Perkuat Mental dan Spiritual Pemuda

19 Maret 2026 - 11:50 WIB

IMG 20260319 WA0110

Baralak Nusantara Desak Penertiban Parkir Liar di Pusat Kota Rangkasbitung

15 Maret 2026 - 06:48 WIB

20260315 183913

Kepala SDN Malabar Bantah Isu Jual Beli Jabatan Kepala Sekolah di Cibadak Lebak

14 Maret 2026 - 20:11 WIB

file 000000003544720b8fbec1ed8bbc50d1
Trending berita