BANTENPOPULER.COM – Tokoh masyarakat Abah Elang Mangkubumi menyampaikan kritik ideologis terhadap arah pembangunan nasional yang dinilai semakin teknokratis dan berorientasi program, namun berpotensi mengabaikan fondasi kebudayaan bangsa.
Dalam pernyataan tertulisnya, Abah Elang menegaskan bahwa Indonesia tidak didirikan sebagai sekadar proyek administratif, melainkan sebagai bangsa yang lahir dari peradaban dan nilai-nilai luhur.
“Hari ini negara bergerak cepat melalui berbagai program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Secara teknis, ini dapat dipahami sebagai upaya memperkuat kesejahteraan rakyat. Namun pertanyaannya, apakah pembangunan masih berpijak pada jiwa kebudayaan bangsa, atau tenggelam dalam logika teknokratis semata?” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan tidak boleh semata-mata berorientasi pada distribusi pangan dan perputaran ekonomi tanpa disertai pembinaan karakter dan penguatan identitas kebangsaan.
Pancasila Bukan Statistik
Abah Elang mengingatkan bahwa bangsa Indonesia berdiri di atas Pancasila, bukan sekadar angka-angka statistik pembangunan.
Ia menyoroti Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab sebagai penegasan bahwa manusia Indonesia adalah manusia berbudaya. “Beradab berarti memiliki nilai, akar sejarah, dan karakter. Jika pembangunan hanya mengejar kesejahteraan material, tanpa ketahanan identitas, maka yang tumbuh hanyalah kemajuan fisik tanpa kekuatan jiwa,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa Sila Persatuan Indonesia lahir dari kesadaran kolektif sejarah, tradisi, bahasa, dan nilai luhur Nusantara, bukan semata dari program bantuan sosial.
Lebih lanjut, ia merujuk pada amanat UUD 1945 Pasal 32 yang memerintahkan negara untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia. “Itu mandat konstitusi, bukan sekadar hiasan pidato,” katanya.
Mengingatkan Ajaran Trisakti
Abah Elang turut mengutip ajaran Trisakti yang disampaikan Presiden pertama RI, Soekarno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
“Bagian ekonomi dan politik sering kita kutip. Namun ‘berkepribadian dalam kebudayaan’ justru terasa terpinggirkan hari ini,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa program MBG dapat memperkuat fisik generasi muda, dan koperasi desa mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Namun tanpa strategi kebudayaan yang sistematis seperti pendidikan karakter berbasis sejarah, pelindungan bahasa daerah, penguatan masyarakat adat, serta revitalisasi seni dan tradisi, pembangunan dinilai bergerak tanpa ruh.
“Ekonomi tanpa budaya melahirkan pasar. Bangsa tanpa budaya kehilangan jiwa,” ungkapnya.
Teguran Ideologis
Abah Elang menegaskan bahwa kritik yang disampaikannya bukan bentuk penolakan terhadap program kesejahteraan rakyat. Ia menyebutnya sebagai peringatan ideologis agar arah pembangunan tetap setia pada Pancasila dan UUD 1945.
“Indonesia merdeka bukan untuk menjadi negara teknokratis yang sibuk menghitung angka, tetapi bangsa yang tegak dengan jati dirinya. Jika program mengalahkan kebudayaan, maka pembangunan kehilangan jiwa,” pungkasnya.











