Menu

Mode Gelap
Diduga Bertindak Semena-mena, PLN ULP Rangkasbitung Disorot: Pemutusan Listrik Berbekal Surat Tanpa Tanda Tangan Manajer Transformasi UPK Menjadi BUMDesma: Antara Amanat Regulasi dan Dugaan Kejahatan Terstruktur atas Aset PNPM di Kabupaten Lebak Hutan Kabel di Lebak, Bisnis Internet Menjamur, Negara Kehilangan Wibawa? GAIB-212 Siap Kepung PLN UP3 Banten Selatan, Bongkar Dugaan Pungli dan Carut-Marut Penggunaan Aset Negara Ketua GAIB-212 Lebak Buka Ruang Koordinasi dengan OPD, Namun Tetap Kawal Kepentingan Rakyat Perpisahan Kelas IX SMPN 3 Rangkasbitung Tahun Ajaran 2025-2026 Berlangsung Khidmat dan Penuh Haru

Daerah

Guru Jadi Korban Jalan Hancur, Warga Tuding Keras Aktivitas Galian Batu di Kp Sengkol Kec. Curugbitung

badge-check


					Kondisi jalan rusak parah di Kampung Sekol, Desa Guradog, Curugbitung, memaksa pengguna jalan ekstra hati-hati. Dua guru SDN 3 Guradog sebelumnya terjatuh di lokasi ini, sementara siswa harus melintasi jalur berlumpur yang rawan kecelakaan setiap hari. foto: bantenpopuler.com Perbesar

Kondisi jalan rusak parah di Kampung Sekol, Desa Guradog, Curugbitung, memaksa pengguna jalan ekstra hati-hati. Dua guru SDN 3 Guradog sebelumnya terjatuh di lokasi ini, sementara siswa harus melintasi jalur berlumpur yang rawan kecelakaan setiap hari. foto: bantenpopuler.com

Lebak, Bantenpopuler.com — Jalan poros desa di Kampung Sengkol, Desa Guradog, Kecamatan Curugbitung, kembali memakan korban. Dua tenaga pendidik dari SDN 3 Guradog, berinisial DI dan SM, terjatuh dari sepeda motor saat melintasi jalan yang rusak parah, berlumpur, dan dipenuhi lubang, Senin pagi (sekitar pukul 06.30 WIB).

Ironisnya, kecelakaan itu terjadi saat keduanya hendak menjalankan tugas negara—mengajar dan mengikuti upacara bendera. Namun, kondisi jalan yang hancur membuat pengabdian mereka dipertaruhkan dengan keselamatan.

design4223

“Saya berangkat pagi, tapi karena jalan licin dan penuh lumpur, motor terpeleset lalu saya terjatuh,” ungkap SM kepada Bantenpopuler.com. Senin (4/5/26).

Meski mengalami nyeri di bagian pinggang akibat insiden tersebut, SM tetap memaksakan diri melanjutkan perjalanan ke sekolah.

“Masih bisa lanjut, walaupun sakit bekas jatuh,” katanya singkat.

Kondisi jalan yang rusak bukan persoalan baru. Namun yang menjadi sorotan tajam, hingga kini belum ada langkah nyata dari pihak terkait meski keluhan warga sudah berulang kali disampaikan.

“Dulu masih ada perbaikan, sekarang seperti dibiarkan hancur. Sudah banyak yang jatuh,” tegas SM.

Fakta di lapangan menunjukkan, jalan tersebut bukan sekadar rusak, melainkan sudah masuk kategori membahayakan dan tidak layak dilalui—terutama saat musim hujan.

Galian Batu Diduga Jadi Biang Kerusakan

Warga secara terang-terangan menunjuk aktivitas galian batu sebagai penyebab utama kerusakan jalan. Lalu lalang kendaraan berat pengangkut material disebut menjadi faktor yang mempercepat kehancuran jalan desa.

“Setiap hari truk besar lewat. Jalan jadi hancur, berlumpur, dan penuh lubang. Ini jelas bukan kerusakan biasa,” ujar seorang warga.

Ia juga menegaskan bahwa insiden yang menimpa dua guru tersebut hanyalah satu dari sekian banyak korban.

“Sudah sering terjadi. Tadi pagi dua guru jatuh, kami yang nolong. Jangan tunggu korban lebih parah,” katanya.

 Pengusaha Tak Bisa Cuci Tangan

Sorotan pun mengarah pada pengusaha galian batu yang beroperasi di wilayah tersebut. Warga menilai, aktivitas usaha yang meraup keuntungan besar itu tidak diimbangi dengan tanggung jawab terhadap kerusakan fasilitas umum.

“Kalau memang aktivitas galian yang merusak, ya harus bertanggung jawab. Jangan hanya ambil untung, tapi jalan desa hancur dan warga jadi korban,” tegas warga.

Desakan Keras: Perbaiki atau Hentikan!

Masyarakat mendesak pemerintah daerah dan pihak terkait untuk tidak tutup mata. Mereka menuntut tindakan tegas: perbaikan jalan secara menyeluruh dan penertiban kendaraan berat yang melintas.

Jika tidak ada langkah konkret dalam waktu dekat, warga memperingatkan potensi kecelakaan yang lebih serius—bahkan bisa merenggut nyawa.

“Ini bukan lagi soal nyaman atau tidak, tapi soal keselamatan. Kalau dibiarkan, korban berikutnya tinggal menunggu waktu,” tutup warga dengan nada geram.


(Redaksi Bantenpopuler.com)

Editor: Yudistira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Diduga Bertindak Semena-mena, PLN ULP Rangkasbitung Disorot: Pemutusan Listrik Berbekal Surat Tanpa Tanda Tangan Manajer

18 Juni 2026 - 09:51 WIB

Screenshot 20260618 164941 ChatGPT

GAIB-212 Siap Kepung PLN UP3 Banten Selatan, Bongkar Dugaan Pungli dan Carut-Marut Penggunaan Aset Negara

15 Juni 2026 - 13:03 WIB

Screenshot 20260615 200226 ChatGPT

Ketua GAIB-212 Lebak Buka Ruang Koordinasi dengan OPD, Namun Tetap Kawal Kepentingan Rakyat

14 Juni 2026 - 12:56 WIB

Screenshot 20260614 195335 Gallery

AMMCB Soroti Dugaan Pencatutan Nama Media Nasional dan Kesesuaian Nomor WhatsApp, Laporan Resmi Segera Dilayangkan

8 Juni 2026 - 05:24 WIB

Screenshot 20260608 122028 ChatGPT

Aktivis Baralak Nusantara Desak Dugaan Pencatutan Nama Media oleh Oknum Kepsek di Lebak Diusut Tuntas

1 Juni 2026 - 15:26 WIB

Screenshot 20260601 222447 Gallery

Mengaku Wartawan Kompas, Oknum Kepsek di Lebak Diduga Peras Narasumber

29 Mei 2026 - 14:47 WIB

Screenshot 20260529 214125 Gallery

Penggiat Anti Narkotika Soroti Dugaan Peredaran Miras di Lebak, RD Didi Arendi: Jangan Tunggu Generasi Muda Rusak

22 Mei 2026 - 11:35 WIB

Screenshot 20260522 183352 ChatGPT

Warung Miras di KM 7 Lebak Disorot, Pengawasan Dipertanyakan

22 Mei 2026 - 10:05 WIB

Screenshot 20260522 165930 ChatGPT
Trending Daerah