Lebak, Bantenpopuler.com — Aktivis Lebak, Sapnudi, yang juga Ketua II PP IMALA Bidang Hubungan Masyarakat, Pemerintah, dan Perguruan Tinggi, menyoroti lemahnya sikap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak dalam menangani berbagai persoalan lingkungan, khususnya terkait aktivitas pertambangan yang merusak ekosistem dan infrastruktur desa. Ia menilai Pemda Lebak belum menunjukkan ketegasan seperti yang pernah dilakukan mantan Bupati Purwakarta, Kang Dedi Mulyadi, dalam menertibkan tambang liar dan pembangunan yang tidak berpihak pada rakyat.
“Kita lihat bagaimana Kang Dedi Mulyadi dulu berani turun langsung ke lapangan, menutup tambang-tambang ilegal, bahkan menegur perusahaan besar yang merusak lingkungan. Di Lebak, sayangnya, sikap seperti itu belum terlihat,” ujar Sapnudi kepada wartawan, Jumat (10/10/2025).

Sapnudi menegaskan, lemahnya penegakan hukum dan pengawasan tambang di Lebak berdampak langsung terhadap kerusakan alam, banjir, serta hancurnya fasilitas umum. Ia menyebut bahwa banyak lokasi tambang, baik yang berizin maupun tidak, beroperasi tanpa memperhatikan kaidah lingkungan hidup.
“Kita tidak menolak investasi, tapi harus ada keberanian untuk menegakkan aturan. Jangan sampai rakyat kecil jadi korban, sementara pelaku tambang yang jelas-jelas melanggar dibiarkan,” tambahnya.
Lebih jauh, Sapnudi mendorong dengan keras agar Bupati Lebak segera menetapkan Peraturan Bupati (Perbup) tentang jam operasional truk tambang, sebagai langkah konkret dalam menata lalu lintas tambang dan mengurangi dampak sosial di wilayah pemukiman.
“Ini bukan hal baru, tapi sampai hari ini tidak ada keberanian dari pemerintah daerah untuk mengeluarkan Perbup jam operasional truk tambang. Padahal masyarakat setiap hari terganggu debu, jalan rusak, dan kemacetan akibat aktivitas tambang,” tegas Sapnudi.
Menurutnya, Pemda Lebak harus belajar dari langkah progresif Kang Dedi Mulyadi yang berani membuat kebijakan pro-lingkungan dan pro-rakyat. Ia menilai keberanian moral dan politik sangat dibutuhkan agar pemerintah tidak sekadar menjadi penonton di tengah kerusakan yang terus terjadi.
“Kalau Pemda Lebak punya nyali seperti Kang Dedi, kita yakin persoalan tambang dan kerusakan alam bisa dikendalikan. Tapi yang terjadi sekarang, lebih banyak retorika ketimbang aksi,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Sapnudi menegaskan bahwa gerakan yang dilakukan bersama jaringan aktivis mahasiswa dan masyarakat sipil murni merupakan bentuk kepedulian terhadap nasib rakyat Lebak, tanpa ada pihak mana pun yang menunggangi atau bisa mengklaim gerakan ini sebagai kepentingannya.
“Ini gerakan nurani, bukan pesanan. Tidak ada yang menunggangi dan tidak ada yang bisa mengklaim. Ini murni suara rakyat Lebak,” tutupnya.





















