Bantenpopuler.com – Tokoh masyarakat dan pemerhati kebijakan publik, Abah Elang Mangkubumi, menyampaikan peringatan moral dan kebangsaan terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilainya dijalankan secara tergesa dan terkesan dipaksakan tanpa kehati-hatian negara.
Dalam pernyataan tertulisnya, Abah Elang menegaskan bahwa niat baik pemerintah tidak otomatis menjadikan sebuah kebijakan benar, terutama jika dalam pelaksanaannya menyingkirkan prinsip kehati-hatian, prioritas nasional, dan keadilan struktural.

“Dalam agama, kekuasaan adalah ujian. Dalam negara, kekuasaan adalah tanggung jawab. Dan dalam sejarah, kekuasaan akan diadili bukan oleh pencitraan, tetapi oleh akibat kebijakannya,” tegasnya.
Dinilai Salah Menempatkan Prioritas Negara
Abah Elang menilai, di tengah persoalan bangsa yang masih kompleks—mulai dari kemiskinan struktural, ketimpangan pendidikan dan layanan kesehatan, hingga lemahnya perlindungan bagi petani, nelayan, dan penciptaan lapangan kerja—pemerintah justru memaksakan program konsumtif berskala nasional.
Menurutnya, pendekatan tersebut berpotensi menyederhanakan persoalan bangsa secara berbahaya.
“Memberi makan bukan jawaban atas semua krisis. Negara seharusnya membangun kemampuan rakyat untuk hidup mandiri, bukan sekadar mengatur cara rakyat diberi makan,” ujarnya.
Ia bahkan mengaitkan persoalan ini dengan kaidah moral dan agama, bahwa mendahulukan yang tidak prioritas sambil melalaikan kewajiban struktural adalah kekeliruan serius dalam kebijakan negara.
Soroti Masalah Teknis dan Risiko Anggaran
Abah Elang juga menyoroti berbagai persoalan lapangan dalam pelaksanaan MBG, mulai dari distribusi yang tidak merata, kualitas makanan yang tidak seragam, hingga keterlambatan distribusi di sejumlah daerah.
Selain itu, ketergantungan pada vendor besar dinilai membuka ruang dominasi modal dan mengabaikan peran petani serta produsen lokal. Ia juga mengingatkan potensi pemborosan anggaran akibat lemahnya pengawasan, mengingat program tersebut bersifat besar dan berulang.
“Jika semua risiko ini sudah diketahui namun tetap dipaksakan, maka yang dipertaruhkan bukan lagi soal teknis, melainkan akhlak kekuasaan,” katanya.
Seruan Langsung kepada Presiden
Dalam pernyataannya, Abah Elang secara langsung menyampaikan seruan kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar berani melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program MBG.
“Mengaji ulang kebijakan bukan tanda kalah. Menarik rem bukan tanda lemah. Justru memaksakan kebijakan yang bermasalah adalah awal dari kegagalan yang lebih besar,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa sejarah tidak mencatat pemimpin dari seberapa keras mempertahankan kebijakan, melainkan dari keberanian mengoreksi arah ketika tanda bahaya muncul.
Peringatan Nurani untuk Negara
Menutup pernyataannya, Abah Elang menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan bukan bentuk perlawanan terhadap negara, melainkan peringatan agar negara tidak melawan nuraninya sendiri.
“Bangsa ini tidak kekurangan program, tetapi kekurangan keberanian untuk berhenti dan menimbang ulang,” pungkasnya.
Ia berharap para pemimpin bangsa senantiasa diberi petunjuk untuk menjalankan kebijakan yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada kemaslahatan jangka panjang rakyat Indonesia.














