Menu

Mode Gelap
Peserta Kecewa, Program “Terima Kasih Muadzin” Dinilai Tak Jelas dan Berpotensi PHP Karang Taruna Kabupaten Serang Perkuat Mental dan Spiritual Pemuda Dari Guru Bantu hingga Kepala Sekolah: Kisah Inspiratif Umsaroh, Pendidik Lebak yang Sukses Bangun UMKM Batik Canting Baralak Nusantara Desak Penertiban Parkir Liar di Pusat Kota Rangkasbitung Kepala SDN Malabar Bantah Isu Jual Beli Jabatan Kepala Sekolah di Cibadak Lebak IMALA Soroti Kualitas Makanan MBG di Lebak, Desak Sidak Dapur dan Penutupan Jika Tak Penuhi Standar

Banten

KEYAKINAN DAN RAMALAN BENCANA (Sebuah Tinjauan Edukatif)

badge-check


					KEYAKINAN DAN RAMALAN BENCANA (Sebuah Tinjauan Edukatif) Perbesar

Oleh: Asep Saepul

Pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten,
Kepala Subbag TU KCD Lebak.

design4223

Melawan ramalan bencana, dalam bingkai refleksi filosofis, dapat dianalogikan seperti pisau yang membelah air. Pisau itu tajam, bekerja nyata, namun tak meninggalkan bekas luka. Air kembali menyatu, seolah tak pernah terbelah. Analogi ini, jika dimaknai secara edukatif, menunjukkan bahwa sikap kritis terhadap ramalan bukanlah tindakan destruktif, apalagi permusuhan. Ia adalah bentuk keberanian intelektual—menolak tunduk pada absurditas, tanpa harus menciptakan kerusakan sosial maupun psikologis.

Dalam konteks pendidikan, ketidakpercayaan terhadap ramalan justru menjadi fondasi penting bagi bangunan berpikir yang lebih matang. Keyakinan, yang ditopang oleh nalar dan pengetahuan, harus menjadi dasar utama dalam merespons segala bentuk prediksi, terutama yang berpotensi menyeret manusia pada wilayah kemusyrikan. Secara teologis, mempercayai ramalan sebagai kebenaran mutlak adalah kesalahan besar. Karena itu, sikap kehati-hatian dan kewaspadaan berbasis iman dan ilmu menjadi sangat relevan.

Di titik inilah, langkah Gubernur Banten, Andra Soni, yang beberapa waktu terakhir menyampaikan pesan optimisme melalui media sosial—khususnya TikTok—patut diapresiasi. Ajakan untuk tetap berwisata dan menikmati keindahan Banten secara aman bukan sekadar promosi, tetapi juga bentuk penguatan psikologis dan keyakinan publik bahwa Banten adalah wilayah yang lengkap, eksotis, dan layak dinikmati tanpa rasa takut berlebihan.

Memang, hingga kini belum terdapat survei statistik resmi yang secara spesifik menunjukkan peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap ramalan bencana dalam lima tahun terakhir. Namun, indikator sosial di ruang digital menunjukkan gejala yang menarik: konten bertema ramalan dan prediksi bencana memperoleh respons sangat tinggi. Ribuan likes—bahkan bisa mencapai 3.000 hingga 4.000 dalam sehari—sering kali mengalir pada konten peramal, sementara konten edukatif kerap tertinggal jauh dari segi atensi publik.

Fenomena ini berjalan beriringan dengan meningkatnya kejadian bencana nyata di berbagai wilayah. Banjir besar di Aceh dan Sumatera Utara, misalnya, terjadi bukan karena ramalan, melainkan akibat kerusakan ekologis yang serius: hutan gundul, alih fungsi lahan konservasi, dan terganggunya keseimbangan lingkungan. Hal serupa juga terjadi di Bali pada September 2025, ketika banjir besar melumpuhkan sejumlah kawasan wisata selama lebih dari satu bulan. Semua ini adalah akibat perilaku manusia terhadap alam, bukan hasil nubuat siapa pun.

Media sosial—TikTok, Instagram, Facebook—kini menjadi ruang publik baru yang dipenuhi ilustrasi, narasi, dan simbol visual beragam. Di sana, masyarakat mengekspresikan emosi, spiritualitas, kritik politik, hingga analisis ekonomi. Ruang ini, meskipun riuh, sesungguhnya membuka peluang tumbuhnya cara berpikir yang lebih terbuka dan reflektif. Kombinasi antara emosi, gaya, dan ekspresi simbolik justru menjadi penanda kemajuan ruang publik yang semakin kritis—dan secara perlahan melemahkan dominasi praktik peramalan yang beraroma perdukunan.

Namun demikian, dalam lima tahun terakhir, ada kecenderungan sebagian masyarakat mencari validasi terhadap ramalan, seolah prediksi menjadi alat pembenaran atas kejadian yang sebenarnya bisa dijelaskan secara ilmiah. Ketika banjir terjadi, misalnya, sebagian peramal mengklaim kebenaran ramalannya, padahal faktor penyebabnya jelas: kerusakan lingkungan. Ketika ombak tinggi melanda beberapa pesisir, hal itu lebih tepat dipahami sebagai fenomena alam yang kebetulan bertepatan dengan prediksi, bukan sebagai bukti keabsahan ramalan.

Masyarakat terdidik sejatinya mampu memosisikan diri secara lebih terbuka dan rasional. Pada akhir 2024 hingga menjelang akhir 2025, publik dihadapkan pada berbagai peringatan BMKG mengenai potensi cuaca ekstrem, longsor, dan gelombang tinggi di pesisir selatan Banten. Informasi ini memunculkan dua respons sekaligus: kecemasan dan kewaspadaan. Sebagian merasa takut, sebagian lain justru memperkuat keyakinan spiritualnya, sambil tetap bersikap waspada dan rasional.

Isu megathrust—sebagaimana diberitakan media nasional—memang menimbulkan kekhawatiran. Pernyataan ilmuwan BMKG tentang potensi gempa besar di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut harus dipahami sebagai peringatan ilmiah, bukan ramalan mutlak. Faktanya, sepanjang 2023 hingga 2025, wilayah Banten tetap aman, bahkan semakin terbuka sebagai destinasi wisata yang eksotis dan menarik.

Di tengah riuhnya konten media sosial, aksi para peramal memang kerap mencuri perhatian karena kemasan yang unik dan menghibur. Namun, tingginya minat menonton tidak identik dengan tingkat kepercayaan. Banyak masyarakat menyimak bukan untuk meyakini, melainkan untuk menilai sejauh mana akurasi dan logika yang ditawarkan.

Perspektif edukatif menuntut kita untuk menilai fenomena dengan tujuan mencerdaskan, bukan menghakimi. Ia menekankan proses belajar, literasi, data, dan metode ilmiah, sekaligus membangun kesadaran kritis. Dalam kerangka ini, prediksi—bahkan dari lembaga ilmiah—harus dipahami sebagai hasil pengukuran dan analisis, bukan sebagai kepastian absolut yang melumpuhkan keyakinan.

Hakikat pendidikan adalah menyiapkan masa depan melalui keyakinan bahwa manusia mampu belajar dan berubah. Namun, ketika ramalan mengambil alih ruang pengambilan keputusan, nalar edukatif justru terpinggirkan. Inilah yang berbahaya: ketika manusia lebih percaya pada spekulasi ketimbang pengetahuan yang terukur.

Banten, dengan laut birunya, gunung hijau yang menjulang, dan doa para ulama serta masyarakatnya, adalah refleksi dari baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr. Keindahan Citorek, Sawarna, Bayah, hingga Anyer dan Tanjung Lesung, bukan sekadar lanskap, tetapi bukti bahwa alam yang dijaga dengan baik akan memberi rasa aman dan keberkahan.

Keyakinan yang kuat, disertai ikhtiar menjaga keseimbangan ekologis dan moral, akan jauh lebih kokoh daripada ramalan yang bersifat spekulatif. Alam yang bergetar secara wajar dan berkelanjutan justru lebih sehat daripada alam yang menyimpan energi besar lalu melepaskannya secara destruktif. Orang Banten sejak lama hidup berdampingan dengan realitas ini—mengenalnya bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari harmoni kehidupan.

Pada akhirnya, keyakinan yang berpijak pada pendidikan dan kesadaran ekologis akan selalu lebih dominan daripada ramalan yang sekadar menjadi tontonan. Di sanalah pendidikan menemukan maknanya: membangun nalar, menenangkan batin, dan menuntun manusia untuk tetap berikhtiar dalam cahaya iman dan ilmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Karang Taruna Kabupaten Serang Perkuat Mental dan Spiritual Pemuda

19 Maret 2026 - 11:50 WIB

IMG 20260319 WA0110

IMALA Soroti Kualitas Makanan MBG di Lebak, Desak Sidak Dapur dan Penutupan Jika Tak Penuhi Standar

14 Maret 2026 - 16:38 WIB

IMG 20260314 170920

Koalisi Aktivis Lebak Bersatu Surati ESDM Banten, Minta Audiensi dan Verifikasi Lapangan Terkait Galian Tanah Cadas di Desa Paja

14 Maret 2026 - 00:05 WIB

Screenshot 2026 03 14 07 02 42 99 439a3fec0400f8974d35eed09a31f914

IMALA Soroti Dugaan Markup Program MBG di Lebak, Desak Audit dan Ingatkan Tanggung Jawab Korwil

13 Maret 2026 - 11:15 WIB

IMG 20260313 WA0037 e1773400450522

Abah Elang Mangkubumi: Spiritualitas, Islam, dan Kebangsaan Fondasi Kebangkitan Peradaban Nusantara

12 Maret 2026 - 20:09 WIB

IMG 20260313 WA0004 e1773346153781

Jaga Marwah Pemerintahan Lebak, Abah Elang Mangkubumi Ajak Semua Tokoh Bersatu Dukung Program Bupati

11 Maret 2026 - 11:32 WIB

IMG 20260311 WA0015
Trending Banten