Bantenpopuler com – Tokoh Baitul Muslimin Indonesia (BAMUSI), Abah Elang Mangkubumi, menegaskan bahwa kebangkitan bangsa Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan kemajuan teknologi, tetapi harus bertumpu pada fondasi nilai spiritual yang kuat.
Hal tersebut disampaikannya dalam refleksi kebangsaan bertajuk “Spiritualitas, Islam, dan Kebangsaan: Fondasi Kebangkitan Peradaban Nusantara”.

Menurut Abah Elang, sejarah membuktikan bahwa peradaban besar selalu berdiri di atas nilai-nilai moral dan spiritual yang kokoh. Tanpa fondasi tersebut, pembangunan hanya akan melahirkan kemajuan material yang rapuh dan kehilangan arah.
“Nusantara sejak dahulu merupakan tanah yang subur bagi lahirnya peradaban spiritual. Para ulama, wali, dan tokoh bangsa membangun masyarakat bukan hanya dengan kekuatan politik, tetapi dengan akhlak, keimanan, dan kesadaran bahwa manusia memikul amanah besar dari Tuhan,” ujarnya.
Ia juga menyinggung pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, mengenai hubungan antara Islam dan nasionalisme. Menurutnya, gagasan tersebut masih sangat relevan dalam kehidupan berbangsa saat ini.
Abah Elang menjelaskan bahwa Soekarno pernah menegaskan bahwa Islam dan nasionalisme bukanlah dua kekuatan yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan seiring sebagai kekuatan moral dalam membangun bangsa.
“Nasionalisme yang sejati bukanlah nasionalisme yang sempit atau egoistik, tetapi nasionalisme yang berakar pada kemanusiaan dan keadilan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa seorang Muslim yang memahami ajaran Islam secara mendalam justru akan memiliki semangat kebangsaan yang kuat, karena Islam mengajarkan persaudaraan, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Abah Elang juga mengingatkan bahwa bangsa yang kehilangan spiritualitas berisiko terjebak dalam materialisme, kekuasaan tanpa moral, serta pembangunan yang tidak berpihak kepada kemanusiaan.
Sebaliknya, ketika spiritualitas menjadi fondasi kehidupan berbangsa, ilmu pengetahuan akan diarahkan untuk kemaslahatan rakyat, kekuasaan dijalankan sebagai amanah, dan persatuan dijaga sebagai tanggung jawab sejarah.
Menurutnya, Indonesia memiliki modal peradaban yang sangat besar, mulai dari tradisi Islam yang kuat, budaya gotong royong, hingga nilai-nilai kebangsaan yang dirumuskan para pendiri bangsa dalam Pancasila.
Karena itu, ia menilai kebangkitan Nusantara tidak boleh hanya dimaknai sebagai pembangunan ekonomi semata. Kebangkitan sejati harus dimulai dari kebangkitan kesadaran spiritual dan tanggung jawab sejarah sebagai bangsa.
“Revolusi yang sejati adalah revolusi yang membangun manusia, yang menumbuhkan keberanian moral, semangat persatuan, dan pengabdian kepada tanah air,” ujarnya, mengutip pemikiran Soekarno.
Di akhir pernyataannya, Abah Elang menegaskan bahwa jika spiritualitas, Islam, dan kebangsaan dapat disatukan kembali dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi negara besar secara geografis maupun demografis.
“Indonesia berpotensi menjadi pusat kebangkitan peradaban baru yang membawa nilai keadilan, kemanusiaan, dan keseimbangan bagi dunia,” pungkasnya.














