Oleh: Dila
Ketua Komisariat STISIP Banten Raya
Mari jujur tidak ada yang benar-benar “kebetulan” dari berulangnya kekerasan terhadap aktivis.

Kasus penyiraman air keras terhadap Andri Yunus hanya satu dari sekian banyak peristiwa yang menunjukkan pola yang sama. Orang bersuara, lalu diserang. Orang mengkritik, lalu diteror. Dan anehnya, kita seperti mulai terbiasa dengan semua itu.
Di sinilah masalahnya.
Ketika kekerasan terus terjadi dan tidak pernah benar-benar dituntaskan, yang sedang diproduksi sebenarnya bukan sekadar ketidakadilan tetapi rasa takut. Rasa takut yang pelan-pelan ditanamkan ke kepala publik.
Logikanya sederhana. Orang melihat, orang mengingat, lalu orang belajar.
Ketika satu aktivis diserang dan kasusnya menggantung, publik menangkap pesan yang sangat jelas bersuara itu berisiko. Tidak perlu ada larangan resmi. Tidak perlu ada aturan yang membungkam. Cukup dengan satu dua peristiwa kekerasan, lalu biarkan ketakutan bekerja dengan sendirinya.
Ini bukan lagi soal individu. Ini soal sistem yang membiarkan ketakutan itu hidup.
Lebih tajam lagi, pembiaran adalah bentuk keberpihakan. Ketika aparat tidak mampu atau tidak mau mengungkap aktor di balik kekerasan, maka publik berhak bertanya sebenarnya siapa yang dilindungi?
Karena yang terlihat di permukaan hanya pelaku lapangan. Tapi kita semua tahu, kekerasan seperti ini jarang berdiri sendiri. Selalu ada kepentingan, selalu ada motif, selalu ada pihak yang diuntungkan ketika suara kritis dibungkam.
Dan di titik ini, demokrasi tidak lagi diserang secara frontal. Ia dilemahkan secara perlahan.
Orang tidak langsung dilarang bicara. Mereka dibuat takut untuk bicara. Mereka dibiarkan menyensor dirinya sendiri. Dan itu jauh lebih efektif daripada represi terbuka.
Yang lebih berbahaya, ketika kondisi ini terus berulang, kita mulai menganggapnya normal. Kita mulai berpikir, “memang risikonya begitu.” Padahal, tidak pernah seharusnya demikian.
Tidak ada demokrasi yang sehat jika warganya harus mempertaruhkan keselamatan hanya untuk menyampaikan pendapat.
Negara tidak bisa terus bersembunyi di balik proses yang lambat dan tidak transparan. Jika ada kemauan, seharusnya ada keberanian untuk mengungkap sampai ke akar bukan hanya menangkap pelaku di permukaan, tapi juga membongkar siapa yang berada di baliknya.
Kalau tidak, maka satu hal harus diakui pembungkaman tidak selalu dilakukan dengan tangan sendiri. Kadang cukup dengan membiarkannya terjadi.
Dan jika itu yang terus berlangsung, maka kita tidak sedang kekurangan keberanian dari rakyat kita sedang kekurangan jaminan keamanan dari negara.
Hari ini Andri Yunus.
Besok bisa siapa saja.
Dan jika semua orang akhirnya memilih diam, maka yang benar-benar berhasil dibungkam bukan hanya aktivis tetapi kebenaran itu sendiri.














